Kinerja ASN Dipacu, Kebiasaan Lama Tak Cukup Jawab Tuntutan Layanan Publik

Iwan RT • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 14:51 WIB
Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setprov Kaltara, Sapi’i. FOTO: IWAN K/RADAR TARAKAN
Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setprov Kaltara, Sapi’i. FOTO: IWAN K/RADAR TARAKAN

TANJUNG SELOR - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) terus memacu peningkatan kualitas kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN). Salah satunya lewat penguatan budaya kerja BerAKHLAK.

Selain pada perubahan sikap, ASN juga didorong untuk menerapkan sistem atau cara kerja yang lebih cepat, sederhana dan yang terpenting harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat di wilayah provinsi ke-34 Indonesia ini.

Hal itu disampaikan Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Provinsi (Setprov) Kaltara, Sapi’i saat mewakili Gubernur Kaltara, Zainal A Paliwang dalam membuka acara Penguatan Budaya Kerja BerAKHLAK Series 2.0 di Tanjung Selor, Rabu (2/9).

Ditegaskannya, core values ASN BerAKHLAK tidak cukup hanya menjadi materi dalam kegiatan. Nilai itu harus terlihat dalam perilaku ASN sehari-hari, termasuk dalam bekerja, berkoordinasi, mengambil keputusan, hingga memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“BerAKHLAK harus menjadi budaya kerja yang kita lakukan setiap hari, bukan sekadar slogan atau materi dalam kegiatan,” ujar Sapi’i.

Era digital dengan perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan masyarakat saat ini menuntut ASN untuk mampu beradaptasi. Pola kerja yang hanya mengandalkan kebiasaan lama dinilai tidak lagi cukup untuk menjawab tuntutan pelayanan publik yang semakin cepat.

Oleh karena itu, Sapi’i menekankan tiga hal yang menjadi pesan utama dalam kegiatan tersebut, yakni berubah, berinovasi dan berdampak. Berubah dalam hal ini berarti ASN harus berani mengevaluasi cara kerja yang sudah tidak efektif dan memperbaikinya.

“Tidak harus pada hal besar, tapi perubahan itu bisa dimulai atau dilakukan melalui peningkatan disiplin, mempercepat respons terhadap pekerjaan, memperbaiki koordinasi, serta menyederhanakan proses pelayanan,” tuturnya.

Demikian juga dengan inovasi. Hal itu juga tidak selalu harus berupa penggunaan teknologi baru. Penyederhanaan alur kerja, pemangkasan proses yang terlalu panjang, maupun cara berkomunikasi yang lebih efektif juga sudah merupakan bagian dari inovasi.

Artinya, tidak harus selalu teknologi yang canggih. Kendati demikian, perubahan dan inovasi tetap harus memiliki tujuan yang jelas, yakni memberikan dampak kepada masyarakat. Jangan sampai hanya bagus di laporan atau presentasi, tapi manfaatnya tidak dirasakan masyarakat.

Dengan begitu, lewat kegiatan ini ia berharap para peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman baru, tapi juga membawa gagasan yang dapat diterapkan secara nyata di unit kerja masing-masing untuk menghadirkan pelayanan publik yang bermanfaat nyata bagi masyarakat. (iwk)

Editor : Azward Halim
pemprov kaltara ASN Pemprov Kaltara