TANJUNG SELOR – Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Utara (Kaltara), Ingkong Ala secara resmi membuka Benuanta Economic Forum (BEF) tahun 2026 yang digelar Bank Indonesia (BI) Kaltara di Tanjung Selor, Selasa (4/8).
Dalam kegiatan yang bertema ‘Menavigasi Transformasi Ekonomi Kaltara Menuju Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Industri Pertambangan’ ini, Wagub Ingkong mengapresiasi BI yang telah konsisten menyusun dan mempublikasikan laporan perekonomian provinsi.
Menurutnya, laporan ini tentunya dapat dijadikan referensi yang kredibel dan komprehensif, serta mampu memberikan gambaran utuh mengenai dinamika perekonomian dan arah kebijakan pembangunan ekonomi di provinsi ke-34 Indonesia ini.
“Tahun-tahun terakhir ini telah membawa tantangan global yang tidak ringan. Perang dagang, disrupsi rantai pasok global, hingga ketidakpastian geopolitik, secara nyata turut mempengaruhi perekonomian nasional, termasuk Kaltara,” ujar Wagub Ingkong saat dikonfirmasi usai kegiatan tersebut.
Kendati demikian, Politisi Partai Hanura ini menegaskan, harus diyakini bahwa di tengah tantangan yang ada, pasti selalu ada peluang. Kaltara dengan posisinya sebagai wilayah perbatasan tentu memiliki peluang yang strategis.
“Kita justru berpeluang besar untuk menavigasi momentum ini agar dapat tumbuh secara berkelanjutan. Salah satu caranya yaitu memperkuat hilirisasi sektor unggulan kita, seperti industri berbasis sumber daya alam dan energi hijau,” tuturnya.
Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara akan terus berkomitmen untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan merata di wilayah Kaltara dengan meningkatkan kualitas infrastruktur dasar dan konektivitas antarwilayah, hingga mendukung usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
“Termasuk percepatan pembangunan Kawasan Industri Hijau Indonesia di Tanah Kuning-Mangkupadi sebagai pusat pertumbuhan baru yang ramah lingkungan, serta penguatan kerja sama di tingkat regional maupun internasional untuk terus mendorong masuknya investasi yang produktif ke Kaltara,” bebernya.
Pastinya, langkah dan kebijakan ini memerlukan sinergi antara pemerintah daerah, BI, pelaku usaha, akademisi dan seluruh elemen masyarakat. Oleh karena itu, BEF ini dinilai sangat penting sebagai ruang strategis untuk berbagi informasi, menyatukan perspektif, serta merumuskan solusi bersama. (iwk)
Editor : Azward Halim