Seychelles Berbagi Pengalaman Ekonomi Biru ke Kaltara

Iwan RT • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 13:15 WIB
Utusan Khusus Presiden Seychelles untuk ASEAN, Nico Barito. FOTO: IWAN K/RADAR TARAKAN
Utusan Khusus Presiden Seychelles untuk ASEAN, Nico Barito. FOTO: IWAN K/RADAR TARAKAN

TANJUNG SELOR - Utusan Khusus Presiden Seychelles untuk ASEAN, Nico Barito melakukan rapat kerja dan sosialisasi rencana kerja ekonomi biru bersama Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Zainal Arifin Paliwang di Tanjung Selor, Rabu (22/7).

Dikonfirmasi Radar Tarakan usai pertemuan tersebut, Nico menyampaikan bahwa ekonomi Seychelles maju karena alamnya baik dan konservasinya juga baik.

“Kebetulan Kaltara ini penduduknya masih sedikit, alamnya juga bagus. Alam yang bagus itu kalau tidak dikelola dengan baik, dia akan rusak,” ujar Nico.

Contohnya yang berkaitan dengan kearifan lokal, seperti udang windu. Karena udang windu ini organik, sehingga harganya lebih mahal. Jika dirawat dengan baik, daerah penghasil tentunya akan mendapatkan nilai tambah yang lebih baik.

“Untuk itu, jika kita bisa hidup baik bersama dengan udang windu, kenapa kita harus mengubah pola dan sistem yang nanti akan merusak alam dan lingkungan,” tuturnya.

Karena menjual produk itu bukan soal kuantitas, tapi lebih kepada kualitas. Hal ini dapat dilihat pada prosesnya, dimana barang itu meskipun sedikit, kalau mutu atau kualitasnya baik, pasti akan dicari orang. Begitu juga sebaliknya.

“Jadi, di sini kami berbagi dengan Kaltara terkait pengalaman-pengalaman baik kami dalam memajukan pariwisata, konservasi alam, sehingga hasil dari alam itu memiliki nilai tambah yang tinggi,” sebutnya.

Disinggung soal prospek di Kaltara, Nico menyebutkan untuk di Kaltara ini seperti konservasi mangrove bisa menghasilkan udang, kepiting dan ikan-ikan lain yang lebih baik dan berkelanjutan.

“Berkelanjutan itu artinya, jika mangrove itu dikembangkan dengan tidak bertanggung jawab, hasil alam seperti udang dan kepiting itu besar kecil semua diambil, terakhir nanti akan habis juga. Oleh karena itu, harus ada sistem yang benar,” jelasnya.

Lebih dari itu, air dari mangrove itu harus dijaga. Kalau air yang masuk ke tepi muara itu tercemar, maka apapun yang disimpan di situ pasti tidak akan hidup. Termasuk yang tak kalah pentingnya adalah soal prilaku masyarakat.

“Masyarakat daerah harus mengurangi konsep-konsep panen ikan yang merusak, seperti pakai listrik, kimia atau obat. Ini maksudnya memang supaya enak ngambilnya, tapi akibatnya semua jadi rusak. Jadi praktik yang salah itu harus ditinggalkan untuk kembali kepada kearifan lokal,” pungkasnya. (iwk)

Editor : Azward Halim
kaltara