TANJUNG SELOR – Kondisi infrastruktur jalan di Krayan yang merupakan wilayah perbatasan RI-Malaysia di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) kian memprihatinkan.
Tak hanya kendaraan roda empat, saat ini di titik-titik tertentu kendaraan roda dua atau sepeda motor pun harus dibantu dengan tarikan manusia menggunakan tali.
Dikonfirmasi terkait hal itu, Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Provinsi (Setprov) Kaltara, Sapi’i mengatakan bahwa penanganan jalan di Krayan itu merupakan tanggung jawab bersama, mulai dari kabupaten, provinsi hingga pusat.
“Kita terus melakukan upaya agar bagaimana kerusakan jalan di Krayan itu dapat tertangani secara maksimal, baik itu yang menjadi kewenangan provinsi, maupun pusat,” ujar Sapi’i kepada Radar Tarakan saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu.
Tentu, dalam proses penanganannya, itu tidak bisa dilakukan secara parsial atau dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan butuh kolaboratif antara pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat melalui kementerian terkait.
“Kenapa kita butuh kolaboratif? Karena dari sisi keuangan, kita tidak bisa mencover itu sendiri. Jadi kita sekarang tidak bicara lagi ini kerja siapa, itu kerja siapa, yang penting kita semua kolaboratif, kerja bareng untuk bagaimana menangani jalan di Krayan itu,” tegasnya.
Bahkan, untuk di wilayah perbatasan provinsi ke-34 Indonesia ini, sebenarnya bukan hanya jalan di Krayan, tapi hal serupa juga terjadi di wilayah lainnya seperti Apau Kayan, Malinau. Semua sama membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.
Khusus untuk di Krayan, itu yang jalan provinsi panjangnya sekitar 85 kilometer (km). dari total panjang jalan itu, yang sudah tertangani sampai konstruksi aspal, itu baru sekitar 10 persen.
“Artinya kita masih punya PR banyak. Tapi kita tetap berupaya, baik itu bekerja menggunakan APBD sesuai kekuatan anggaran daerah, maupun dengan mengusulkan dukungan dari APBN dengan mekanisme Inpres Jalan Daerah,” pungkasnya. (iwk)
Editor : Azward Halim