TANJUNG SELOR – Desa Binuang yang merupakan ibu kota Kecamatan Krayan Tengah di wilayah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) hingga kini belum tersentuh jaringan listrik PLN.
Hal ini menunjukkan bagian dari potret ketimpangan pembangunan yang dirasakan oleh warga di wilayah perbatasan RI-Malaysia tersebut. Pada malam hari, warga yang tidak memiliki tenaga surya untuk penerangan, terpaksa mengandalkan penerangan dari hasil alam.
“Ibu kota Kecamatan Krayan Tengah yang berada di Binuang sampai hari ini belum ada PLN masuk. Kondisi di malam hari, itu pemukiman gelap. Kalau ada rumah yang terang, itu lampunya pakai aki atau tenaga surya,” ujar Kepala Desa (Kades) Binuang, Kalvin kepada Radar Tarakan, Jumat (26/6).
Sedangkan warga yang tidak memiliki fasilitas tenaga surya atau genset, terpaksa mengandalkan damar yang merupakan alat penerang dari bahan bakunya yang diambil dari hutan.
“Ada yang masih pakai damar. Itu diambil dari hutan, khusus untuk api. Dia berbeda lagi dengan damar yang biasa digunakan untuk dempul perahu,” tuturnya.
PLN JANJI MASUK 2025, HINGGA KINI BELUM TEREALISASI
Kalvin juga mengatakan, pada saat warga dari perbatasan Kaltara ini melakukan hearing ke Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltara pada tahun 2024 lalu, dari PLN ada berjanji akan masuk untuk pemasangan jaringan listrik pada tahun 2025.
Tapi, semua itu hanya sebatas janji. Karena hingga pertengahan tahun 2026 ini, apa yang menjadi janji dari pihak PLN tersebut belum ada terealisasi. Kondisi di lapangan, sekitar 500 jiwa warga Binuang harus hidup dalam kondisi gelap gulita saat malam hari.
“Tahun 2024 lalu di Kantor DPRD Kaltara dari pihak PLN berjanji pasang PLN 2025, tapi sampai hari ini belum terealisasi. Mengingat transportasi darat susah, menurut kami lebih baiknya pakai tenaga surya,” pungkasnya. (iwk/lim)
Editor : Azward Halim