TANJUNG SELOR – Bapperida Kaltara bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai memperkuat pengembangan Beras Adan Krayan sebagai pangan lokal unggulan yang diharapkan mampu menopang ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan.
Kepala Bidang Riset dan Inovasi Bapperida Kaltara, Mochamad Sarkawi, menjelaskan bahwa kajian tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai potensi, rantai nilai, serta berbagai tantangan dalam pengembangan Beras Adan Krayan.
"Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menyusun rekomendasi berbasis data dan riset agar pengembangan Beras Adan Krayan dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat," kata Sarkawi kepada Radar Kaltara, Sabtu (6/6).
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan meliputi focused group discussion (FGD), pendampingan teknis pemanfaatan sertifikasi indikasi heografis (IG) hingga koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) guna memverifikasi data primer secara komprehensif.
"Verifikasi data menjadi penting agar kebijakan yang dihasilkan nantinya benar-benar sesuai dengan kondisi riil di lapangan dan kebutuhan masyarakat," ungkapnya.
Tidak hanya melakukan pengumpulan data di tingkat kabupaten, tim kajian juga turun langsung ke wilayah Krayan, tepatnya di Long Bawan, untuk melakukan observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan berbagai pemangku kepentingan.
Di antaranya pengurus Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Beras Adan, petani, pedagang, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terlibat dalam rantai produksi dan pemasaran komoditas tersebut.
"Kami ingin mendapatkan gambaran utuh mulai dari proses budidaya, pascapanen, distribusi hingga strategi pemasaran Beras Adan yang telah memiliki sertifikasi Indikasi Geografis," jelasnya.
Menurut, Beras Adan Krayan memiliki nilai strategis yang tidak hanya berkaitan dengan ketahanan pangan daerah, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai komoditas unggulan yang mampu meningkatkan daya saing ekonomi Kaltara. Karena itu, sinergi antar Pemda, BRIN, akademisi serta masyarakat lokal dinilai menjadi kunci dalam memperkuat ekosistem riset dan inovasi daerah.
"Kolaborasi ini diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang tepat sasaran sehingga pengembangan Beras Adan dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan," ungkapnya.
Selain itu, dukungan dari pemda dan berbagai pihak terkait juga menjadi faktor penting dalam mendorong pemanfaatan sertifikasi Indikasi Geografis sebagai instrumen perlindungan sekaligus peningkatan nilai tambah produk lokal.
Dengan dukungan penuh dari Bappeda dan Litbang Kabupaten Nunukan, hasil kajian tersebut diharapkan mampu menjadi pijakan strategis bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pengembangan komoditas unggulan daerah berbasis potensi lokal.
"Harapannya, Beras Adan Krayan tidak hanya menjadi identitas pangan unggulan Kalimantan Utara, tetapi juga mampu memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan pendapatan petani, dan mendorong kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan," pungkasnya. (jai/lim)