TANJUNG SELOR – Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) merupakan salah satu momentum penting untuk memperkuat kedaulatan negara di tengah tantangan perkembangan zaman di era digitalisasi saat ini, tak terkecuali di Kalimantan Utara (Kaltara).
Pada momentum Harkitnas ke-118 tahun 2026 ini, Sekretaris provinsi (Sekprov) Kaltara, Denny Harianto menyampaikan beberapa pesan penting terhadap masyarakat di provinsi ke-34 Indonesia ini, khususnya kepada generasi muda sebagai penerus perjuangan bangsa.
Ia menegaskan, makna kebangkitan nasional terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Untuk itu, Harkitnas tahun ini mengangkat tema ‘Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara’. Tema ini dinilai relevan dalam memperkuat perlindungan dan pembangunan generasi muda.
“Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tengah menjalankan sejumlah program strategis untuk memperkuat fondasi kesejahteraan masyarakat,” ujar Sekprov membacakan sambutan Menkomdigi pada upacara Harkitnas 2026 di Tanjung Selor, Rabu (20/5).
Sejumlah program nasional tersebut, mulai dari makan bergizi gratis (MBG), pemerataan pendidikan melalui pembangunan Sekolah Rakyat dan SMA Unggul Garuda, hingga layanan kesehatan.
“Kedaulatan pangan, kesehatan dan pendidikan kini sedang kita bangun sebagai salah satu ekosistem kesejahteraan yang utuh,” tuturnya.
Selain itu, penguatan ekonomi masyarakat juga didorong melalui pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sebagai penggerak ekonomi baru di tingkat desa/kelurahan.
“Mari kita jadikan momentum Harkitnas ini untuk memperkuat solidaritas sosial, meningkatkan literasi digital dan memastikan setiap langkah pembangunan berorientasi pada kemajuan bersama,” katanya.
Lebih dari itu, lanjut Sekprov, peringatan Harkitnas ini juga menjadi momentum refleksi atas lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada 1908, yang menandai awal tumbuhnya kesadaran berbangsa. Semangat perjuangan saat itu menjadi tonggak perubahan dari perlawanan fisik menuju perjuangan melalui pemikiran dan diplomasi demi menjaga kedaulatan bangsa.
“Semangat 1908 adalah tonggak di mana perlawanan fisik mulai bertransformasi menjadi perjuangan intelektual dan diplomatik demi kedaulatan bangsa yang bermartabat,” pungkasnya. (iwk/lim)
Editor : Azward Halim