TANJUNG SELOR - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Kaltara menjadi momentum penegasan arah pendidikan madrasah yang berfokus pada penguatan karakter.
Melalui implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dengan ruh “Panca Cinta”, madrasah didorong mencetak generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak dan berdaya saing global.
Kepala Kanwil Kemenag Kaltara, H. Muhamad Saleh menegaskan, madrasah harus tetap menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter peserta didik. “Madrasah harus melahirkan generasi unggul yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kuat dalam karakter, akhlak dan spiritualitas,” kata Salah kepada Radar Kaltara, Sabtu (2/5).
Ia menekankan pentingnya integrasi antar ilmu pengetahuan dan nilai keagamaan sebagai fondasi pendidikan. Menurutnya, keseimbangan tersebut menjadi kunci dalam menciptakan peserta didik yang berintegritas.
“Integrasi ini penting agar peserta didik tidak hanya memiliki kecerdasan, tetapi juga nilai dan arah dalam kehidupan,” tegasnya.
Dalam implementasinya, konsep “Panca Cinta” menjadi inti pembelajaran di madrasah. Nilai pertama, cinta kepada Allah SWT, diwujudkan melalui penguatan keimanan dan kesadaran bahwa proses belajar merupakan bagian dari ibadah. “Seluruh aktivitas belajar harus dilandasi nilai spiritual,” katanya.
Nilai kedua, cinta kepada Rasulullah SAW, diterapkan melalui keteladanan akhlakul karimah seperti kejujuran, amanah, disiplin, dan kasih sayang. Sementara itu, cinta kepada sesama manusia menjadi dasar dalam membangun empati, toleransi dan semangat gotong royong. “Nilai ini sekaligus memperkuat moderasi beragama dan harmoni sosial di lingkungan madrasah,” jelasnya.
Selanjutnya, cinta kepada lingkungan diwujudkan melalui kepedulian terhadap kelestarian alam, termasuk program Madrasah Hijau dan pembiasaan hidup bersih serta hemat energi. Adapun cinta kepada bangsa dan negara ditanamkan melalui semangat nasionalisme dan komitmen menjaga persatuan.
“Seluruh nilai ini harus hadir dalam kehidupan sehari-hari peserta didik,” imbuhnya.
Saleh menegaskan bahwa “Panca Cinta” tidak boleh berhenti sebagai konsep semata, melainkan harus diimplementasikan secara nyata dalam seluruh aktivitas madrasah. “Mulai dari pembelajaran di kelas, budaya madrasah, hingga kegiatan ekstrakurikuler, semuanya harus mencerminkan nilai tersebut,” tegasnya.
Selain penguatan karakter, ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi tenaga pendidik dalam menghadapi transformasi digital. Pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), dinilai menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan. “Transformasi digital di madrasah bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk menjawab tantangan zaman,” ujarnya.
Di sisi lain, penguatan tata kelola dan budaya kerja berintegritas juga terus didorong melalui pembangunan zona integritas menuju wilayah bebas dari korupsi (WBK) serta wilayah birokrasi bersih dan melayani (WBBM). "Berbagai inovasi seperti Madrasah Digital, Madrasah Hijau, serta penguatan literasi dan numerasi turut menjadi fokus pengembangan pendidikan madrasah," ujarnya.
Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus bersinergi dalam membangun pendidikan madrasah yang unggul dan inklusif. “Pendidikan adalah jalan utama membangun peradaban. Madrasah harus menjadi pusat lahirnya generasi emas yang berilmu, berakhlak, dan berkontribusi bagi bangsa dan negara,” pungkasnya. (jai/lim)
Editor : Azward Halim