TANJUNG SELOR - Kalimantan Utara (Kaltara) mencatat inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,57 persen pada Maret 2026. Kenaikan harga dipicu terutama oleh lonjakan tarif angkutan udara dan komoditas pangan seperti cabai rawit, di tengah momentum hari besar keagamaan nasional (HBKN).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, seluruh wilayah pemantauan indeks harga konsumen (IHK), Tarakan, Tanjung Selor, dan Nunukan, mengalami inflasi pada periode tersebut.
Kepala BPS Kaltara, Mustaqim, menjelaskan inflasi terjadi seiring kenaikan IHK dari 109,06 pada Februari menjadi 109,68 pada Maret 2026. “Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 1,53 persen,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (1/4).
Sejumlah komoditas yang mendorong inflasi antara lain cabai rawit dengan andil 0,24 persen, daging ayam ras 0,13 persen, angkutan udara 0,10 persen, serta ikan bandeng dan telur ayam ras masing-masing 0,05 persen.
Kenaikan ini mencerminkan pola musiman jelang HBKN, di mana permintaan bahan pangan dan mobilitas masyarakat cenderung meningkat. Namun, tingginya kontribusi angkutan udara juga menunjukkan masih mahalnya biaya transportasi di wilayah yang bergantung pada konektivitas udara seperti Kaltara.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi. Emas perhiasan mencatat deflasi 0,06 persen seiring tren penurunan harga emas global. Selain itu, sawi hijau, kangkung, dan angkutan laut masing-masing menyumbang deflasi 0,03 persen, serta bayam 0,01 persen.
Secara tahunan (year-on-year/y-on-y), inflasi Kaltara pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,12 persen, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) mencapai 1,14 persen.
Inflasi tahunan terutama dipicu kenaikan harga pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 6,67 persen, serta kelompok kesehatan yang melonjak hingga 8,01 persen. Kondisi ini mengindikasikan tekanan biaya hidup tidak hanya berasal dari pangan, tetapi juga dari kebutuhan dasar lainnya.
Adapun komoditas yang dominan menyumbang inflasi tahunan meliputi tarif listrik, tarif air minum, layanan rumah sakit, beras, hingga angkutan udara.
Jika dilihat per wilayah, inflasi tertinggi terjadi di Tarakan sebesar 3,81 persen, disusul Tanjung Selor 3,06 persen, dan Nunukan 1,96 persen.
Meski angka inflasi masih dalam kisaran terkendali, kombinasi kenaikan harga pangan, energi, dan transportasi berpotensi menekan daya beli masyarakat, terutama di wilayah dengan ketergantungan tinggi pada pasokan dari luar daerah. (iwk/lim)
Editor : Azward Halim