Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Perjalanan Menembus Awan, demi Energi Setara di Krayan

Radar Tarakan • Kamis, 30 Oktober 2025 | 15:51 WIB
PERJUANGKAN KESETARAAN: Aktivitas muat BBM di Bandara Juwata Tarakan, ke pesawat Cessna 208 Caravan untuk diterbangkan ke Krayan. FOTO: PERTAMINA PATRA NIAGA UNTUK RADAR TARAKAN
PERJUANGKAN KESETARAAN: Aktivitas muat BBM di Bandara Juwata Tarakan, ke pesawat Cessna 208 Caravan untuk diterbangkan ke Krayan. FOTO: PERTAMINA PATRA NIAGA UNTUK RADAR TARAKAN

Di teras negeri sebelah utara, bensin datang dari udara. BBM bukan lagi soal kebutuhan berkendara, tapi juga simbol kedaulatan negara.

NUR RAHMAN, Tarakan

BANDARA Yuvai Semaring di Long Bawan, Kecamatan Krayan, tak cuma jadi titik pendaratan armada-armada perintis. Landasan itu juga menangkap harapan dari setiap pesawat yang datang.

Pasokan bahan pangan sampai kebutuhan bahan bakar juga datang lewat “jalur langit”. Satu-satunya jalur yang bisa dipilih Pertamina Patra Niaga untuk menjalankan program BBM satu harga.

“Kalau tidak ada pasokan khusus ini, kami tidak punya pilihan selain beli BBM yang dikirim lewat perbatasan Malaysia,” kata Angelina Lynn, warga Desa Liang Butan, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Letak geografis Krayan beserta empat kecamatan lain yang dikepung hutan dan bukit, menjadikannya nyaris terisolir penuh. Bahkan untuk diakses dari wilayah terdekat di Nunukan sekalipun.

Angelina menyebut BBM yang dikirim Pertamina lewat pesawat adalah pilihan utama. Walaupun kadang harus mengantre dan kuotanya dibatasi agar terdistribusi merata.

“Karena kan bensin (pertalite, Red) itu harganya Rp 10.000 per liter. Sedangkan kalau beli eceran yang dari Malaysia, bisa Rp 18.000-25.000. Jadi ya lumayan selisihnya,” ungkap perempuan yang bekerja sebagai staf salah satu kampus negeri itu.

Tak hanya memanfaatkan pertalite untuk mobilitas harian, Angelina mengaku keluarganya juga menggunakan solar subsidi. “Solar harganya juga sama seperti di kota kan, Rp 6.800 seliter,” sambung gadis 20 tahun ini.

Selain untuk mesin yang dipakai bertani, solar kata dia, juga sebagai cadangan darurat bahan bakar genset untuk penerangan. “Karena listrik di sini juga masih susah,” sambung Angelina.

Kondisi lebih lega juga telah dirasakan warga di kecamatan terdekat, Krayan Timur. Sejak adanya pangkalan resmi yang baru, tiga tahun terakhir, perjuangan mereka mendapatkan BBM satu harga jadi lebih mudah.

ESTAFET ENERGI: Proses distribusi BBM di wilayah Krayan Barat, Kabupaten Nunukan. FOTO: ANGEL LYNN UNTUK RADAR TARAKAN
ESTAFET ENERGI: Proses distribusi BBM di wilayah Krayan Barat, Kabupaten Nunukan. FOTO: ANGEL LYNN UNTUK RADAR TARAKAN

“Sekarang itu antrenya paling cuma 10 menit. Dan untuk pertalite, stoknya sudah jarang kosong,” ujar Sugiartho Pramana, warga Desa Pa Melade, Kecamatan Krayan Timur.

Mengikuti pemekaran wilayah, dia menyebut pangkalan BBM juga menyusul tersedia di kecamatan-kecamatan. Sebelum itu, Sugiartho menyebut warga di desanya harus ikut mengantre di Kecamatan Krayan, yang biasa disebut warga sebagai Krayan Induk.

“Dulu waktu ikut antre di sana, bisa sampai 4 jam. Waktu jadi habis untuk antre. Buat yang siangnya kerja jadi agak sulit dapat BBM,” kata Sugiartho, yang kini cukup menempuh jarak 1 km untuk ke pangkalan BBM terdekat.

Dia pun berharap Pertamina dapat mempertahankan komitmen dalam menerapkan BBM Satu Harga. Termasuk dengan menjaga konsistensi dalam pelayanan dan kelancaran distribusinya.

“Karena dengan adanya BBM Satu Harga ini, kami tidak perlu bergantung sama BBM dari Malaysia,” sebutnya.

Saat ini, BBM kiriman dari Malaysia memang masih beredar di kios-kios dengan harga eceran yang lebih mahal.

“Pertalite kan Rp 10.000, kalau yang dari Malaysia itu paling murah Rp 15.000 seliter,” sambung pria 35 tahun ini.

Upaya penerapan BBM Satu Harga memang harus melalui perjalanan yang tidak sebentar. Walaupun distribusi via udara sudah berjalan lama, efektivitasnya disebut benar-benar terasa dalam 2-3 tahun terakhir.

Hal tersebut diungkapkan oleg Camat Krayan, Ronny Firdaus. “Itu karena pangkalan terus bertambah. Karena pasokan lancar, sudah tidak ada yang jual BBM sampai Rp 100.000 per liter seperti 4-5 tahun lalu,” kata saat diwawancarai Selasa (21/10) malam.

Ronny menyebut, antrean mengular sudah jarang terlihat, khususnya di Kecamatan Krayan. Kalaupun ada, kata dia, itu karena adanya kendala tertentu yang mengganggu jadwal pengiriman.

“Karena armadanya juga terbatas, kadang kalau ada gangguan pesawatnya, pengiriman tertunda. Kadang juga karena cuaca,” jelasnya.

Ronny menjabarkan, di Krayan Induk terdapat sekitar 4.000 penduduk. Jumlah itu adalah yang paling besar di antara 5 kecamatan di wilayah Krayan.

Program BBM satu harga untuk Krayan dijalankan Pertamina dari Fuel Terminal Tarakan. Distribusi selama ini dilakukan menggunakan pesawat jenis perintis seperti Air Tractor AT-802 juga Cessna 208 Caravan.

“Kuota pasokan BBM satu harga ini mengacu dari BPH Migas. Saat ini estimasi per bulan sekitar 100 kiloliter biosolar, dan 100 kiloliter pertalite,” ungkap Sales Branch Manager (SBM) Kaltimut V Pertamina Patra Niaga, Muhammad Naufal Atiyah kepada Radar Tarakan, Rabu (29/10) kemarin.

BBM dari Fuel Terminal Tarakan diisi lebih dulu dari mobil tangki ke drum. Lalu dimuat ke pesawat pengangkut, sebelum diantar dari Bandara Juwata Tarakan ke Bandara Yuvai Semaring, Krayan.

Jalur udara, kata dia, sangat diandalkan masyarakat Krayan. Mengingat, akses darat menuju ke daerah tersebut masih sulit dilalui.

“(Jalur) udara kendalanya cuaca. Kalau darat itu jalannya rusak, kadang banjir dan longsor,” lanjut Naufal.

Tak hanya mengoptimalkan distribusi, Pertamina juga terus mengupayakan pelayanan di darat. Salah satunya dengan mengebut progres pembangunan SPBU di Desa Long Muatan, Kecamatan Krayan Tengah.

“Sudah ada di Krayan Induk, Krayan Selatan, Krayan Timur, dan Krayan Barat. Krayan Tengah saat ini proses pembangunan, kami optimistis bisa beroperasi di Desember,” sebut Naufal. (***)

Editor : Azwar Halim
#bbm #krayan