TRAGEDI di Paser membuat masyarakat adat Dayak menuntut keadilan. Ini merupakan respons atas kepergian Rusel (60).
Warga Dusun Muara Kate, Desa Muara Langon, Kecamatan Muara Komam, Kabupaten Paser yang tewas terbunuh pada Jumat (15/11) subuh.
Tokoh Perempuan Dayak Kalimantan Mei Christy mengatakan, peristiwa ini tentu menyesakkan hati masyarakat adat. Dia bersama tokoh Dayak lainnya turut mendampingi keluarga korban di lokasi.
Kondisi terkini di rumah duka banyak dukungan solidaritas dari rekan-rekan sesama Dayak. Mereka berdatangan bahkan dari luar Kaltim. Seperti Kalsel, Kalbar, dan Kalteng.
Ini bentuk dari rasa prihatin atas hal yang menimpa warga Muara Kate. "Kami sangat menyesalkan karena perjuangan warga ini tidak dimulai satu atau dua pekan ini. Namun sejak dari Januari lalu," katanya.
Tuntutan jelas karena warga berharap tidak ada lagi truk hauling yang menggunakan jalan negara. Apalagi beberapa waktu lalu baru saja memakan korban hingga meninggal dunia.
"Namun ternyata pemerintah tidak bisa menyelesaikan permasalahan ini. Begitu juga dengan aparat Kepolisian," ujarnya kepada Kaltim Post.
Sehingga atas kejadian ini, masyarakat adat dayak menuntut Kepolisian tidak hanya menemukan tersangka saja.
"Tetapi mengungkapkan siapa dalang masalah karena ini jelas pembunuhan berencana," tegasnya. Mei menyebutkan, tak menutup kemungkinan semakin banyak masyarakat dayak yang hadir memberikan dukungan.
Khususnya sebagai upaya menuntut pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat atas kematian Rusel. "Kalau terus begini saya pastikan ada gerakan dari masyarakat dayak," ucapnya.
Menurutnya saat ini kondusifitas Kaltim hanya bisa ditentukan dari kinerja Kepolisian dalam menangani kasus kematian Rusel di Kabupaten Paser. "Bagaimana transparansi pembongkapan kasus ini beserta dalangnya," sebutnya.
Masyarakat adat tidak hanya ingin sekedar tersangka saja yang ditangkap. Namun dalang harus diungkap dan mendapat penegakan hukum.
"Kami mengimbau seluruh masyarakat Dayak di mana pun, saudara-saudara di Muara Kate sangat membutuhkan dukungan agar bisa mendapatkan keadilan," tuturnya.
Terpisah Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Yuliyanto menegaskan, saat ini Polda Kaltim bersama Polres Paser melakukan pencarian terhadap terduga pelaku pembacokan yang terjadi Desa Muara Langon, Muara Koman, Paser, Jumat (15/11) dini hari lalu.
“Kami turut berduka atas korban meninggal. Saat ini tim Jatanras Ditreskrimum Polda Kaltim bersama Polres Paser melakukan pencarian,” ungkapnya Minggu (17/11).
Ada dua korban, yakni Russel yang dinyatakan meninggal dan Anson sedang dalam perawatan di rumah sakit.
“Kami menyampaikan terima kasihpada seluruh warga dan tokoh masyarakat yang sampai saat ini, turut menjaga situasi tetap kondusif,” tuturnya.
Pihaknya berharap masyarakat untuk tidak terprovokasi adanya isu-isu yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.
“Jika masyarakat mendapatkan informasi sekecil apapun tentang dugaan pelaku, kami mohon bisa segera disampaikan kepada, Polres Paser atau kepolisian terdekat ataupun juga bisa melalui saluran telpon 110,” pintanya.
Salah seorang saksi, Warta Linus, menjelaskan bahwa penyerangan terjadi ketika warga sedang tertidur di posko “Masyarakat Stop Hauling Batu Bara.” “Tidak ada yang melihat langsung saat penyerangan karena mereka semua tertidur. Mereka baru terbangun setelah mendengar teriakan minta tolong dari salah satu korban,” ujar Warta.
Masyarakat adat Dayak menuntut keadilan dan perlindungan hukum atas kasus ini. Mereka meminta pihak kepolisian segera menangkap pelaku dan mengusut dalang di balik pembunuhan ini, termasuk kemungkinan adanya keterkaitan dengan konflik jalan tambang.
Baca Juga: Diamuk Massa sebelum Ditahan, Penabrak Bocah hingga Tewas di Simpang BDS
Sementara itu untuk menjaga kondusivitas, Polres Paser dan Kodim 0904/PSR bergerak cepat menangani kasus ini, salah satunya bertemu dengan organisasi adat yang peduli dengan kasus ini. Yaitu Dewan Adat Dayak Kaltim, pertemuan berlangsung di Hotel Maxone Balikpapan pada Sabtu (16/11).
Kasi Humas Polres Paser IPTU Iwan Suhariyanto menyampaikan hadir langsung dalam pertemuan ini Kapolres Paser AKBP Novy Adi Wibowo dan Dandim 0904/ PSR Letkol Inf Ary Susetyo didampingi masing-masing pejabat utamanya.
Iwan menyebut dalam pertemuan itu, Sekertaris Umum Dewan Adat Dayak Kaltim Hendri Tando mengatakan pihaknya merupakan utusan dari rekan Dayak Kalbar, Kalteng dan Kaltara untuk menindaklanjuti kejadian penganiayaan yang terjadi di Paser.
Mereka berharap Polres Paser dapat bekerja sama dengan Dandim 0904/PSR mengungkap kasus yang terjadi dalam waktu 3 x 24 jam.
Sementara AKBP Novy menyampaikan, kejadian tersebut merupakan kekerasan yang disebabkan oleh senjata tajam dan bukan disebabkan oleh penembakan.
Polisi telah menanyakan kepada dua dokter di RSUD Panglima Sebaya Paser, bahwa setelah dilakukan pemeriksaan, tidak ditemukan adanya bekas residu peluru atau pun luka tembak kepada kedua korban.
"Adanya bahasa penembakan disalah satu video karena adanya salah seorang yang membuat video dalam keadaan panik. Sehingga yang bersangkutan menyebutkan kata penembakan," kata Kapolres Paser itu.
Polres Paser diback up oleh Polda Kaltim telah bekerjasama dan saat ini masih dalam tahap pemeriksaan saksi-saksi.
Novy memohon kepada masyarakat Kaltim dan anggota Dewan Adat Dayak agar tidak melakukan tindakan yang dapat menggangu stabilitas kamtibmas, semisal mendatangi Paser untuk melakukan sweeping dan lainnya.
"Kami harap agar rekan-rekan Dewan adat Dayak Kalimantan dapat menginformasikan kepada masyarakat agar tidak terprovokasi dan mempercayakan penanganan kasus tersebut kepada pihak kepolisian," kata Novy.
Dandim Letkol Ary menyampaikan agar seluruh pihak menjaga persatuan dan kesatuan antar-suku dan budaya di Indonesia khususnya di Kaltim. Dia berharap kepada dewan Adat Dayak Kaltim agar dapat meredakan masyarakat.
"Mari sama-sama kita membantu Polres Paser dalam mengungkap tindak pidana ini, serta selalu menjaga situasi kamtibmas khususnya di Paser," kata Ary. (kpg/gel/rdh/jib/jnr)
Editor : Azwar Halim