Konten wawancara atau kuis jalanan menjadi salah satu konsep yang viral di media sosial. Di antara banyaknya kreator global maupun nasional, muncul satu nama yang cukup menarik perhatian; Nur Rahman Saeroni.
KUIS Lampu Merah bukanlah konten pertama yang digarap pemilik nama akun rahmansaeroni di Tiktok dan Instagram ini. Berbagai niche, seperti sketsa, text and raw video, POV, hingga jokes kodian, pernah digarapnya.
Tapi konsistensi baru dia dapatkan saat menggarap Kuis Lampu Merah, di Juli 2026. Dia mengakui, banyak kreator yang menjadi inspirasinya.
“Yang paling meng-influence itu konten Bus Stop Trivia milik The Raffle Kid. Dari gaya editing, saya banyak mengadaptasi dari situ,” ujar Rahman.
Sebelum akhirnya menemukan formula Kuis Lampu Merah, Rahman mengaku sangat menyukai trivia. Terutama yang berkaitan dengan geografi dan teritori wilayah. Latar belakang 13 tahun menjadi jurnalis, mendukung pertumbuhan wawasannya.
“Millenial juga besar dengan berita televisi. Kita banyak tahu kabupaten atau kota itu ada di provinsi mana, ya dari situ,” ungkap pria kreator kelahiran Loa Janan, 20 Juni 1991 ini.
Bumbu komedi dalam berbagai konten yang digarap Rahman, tak lepas dari kegemarannya juga pada dunia lawak. Selain jurnalis, dia juga seorang komika atau standup comedian. Bahkan pada 2022, dia pernah menjadi finalis kompetisi di salah satu stasiun televisi nasional.
“Dulu gabung Standupindo Balikpapan, sekarang masih aktif open mic tiap pekan sama Standupindo Tarakan. Kadang teman-teman juga bikin show, saya masih sering terlibat,” tutur pria yang sudah 4 tahun menetap di Tarakan ini.
Saat ditanya kembali soal perkembangan konten Kuis Lampu Merah, Rahman menyebut masih akan berusaha konsisten menjalankannya. Meskipun, hanya menjadi selingan di tengah kewajibannya bekerja di industri media massa.
“Dari awal niatnya buat have fun. Walaupun sekarang jadi tanggung jawab baru, karena kontennya sudah bersponsor. Dulunya tayang satu, sekarang jadi dua video per hari,” terangnya.
Konten ini sudah tayang sengan berbagai latar kota. Dari Tarakan, Samarinda, Balikpapan, dan Tenggarong. Tayangan tertinggi dari konten ini datang dari episode di Balikpapan, dengan 14,2 juta views di Tiktok.
Sampai akhir September ini, Kuis Lampu Merah sudah tayang 90 episode. Rahman menggarapnya dengan skema mirroring, untuk empat platform sekaligus. Yakni Tiktok, Instagram, Facebook, dan Youtube Short.
“Iya jadi satu kali tayang itu bersamaan. Sejauh ini tayangan paling tinggi di Tiktok. Karana followersnya paling besar kan di 50 ribuan. Ada juga episode kompilasi sepekan sekali, khusus tayang di Youtube,” jelas Rahman.
Dalam proses produksi, Rahman mengaku masih menggarapnya sendiri. Dari proses naskah, perekaman, hingga editing. Dia dibantu sang istri, Kamsiah Kasman, untuk urusan administrasi.
“Itu juga karena sudah banyak yang kontak untuk sponsor dan promosi. Sudah nggak mungkin saya handle juga bagian ini,” pungkas Rahman sambil tersenyum. (*)
Editor : Nur Rahman