“Selamat datang di Kuis Lampu Merah! Untuk Rp 10.000, sebutkan nama presiden ketiga Republik Indonesia?”. Kurang lebih begitulah dialog dalam tayangan perdana konten yang di pengujung September ini sudah menyentuh 90 episode.
Bermodalkan kamera ponsel, konten ini memulai perjalanannya di pertigaan Jalan dr Sutomo, Kelurahan Karang Rejo, Kota Tarakan. Langkah itu bermula dari kegemaran Nur Rahman Saeroni, sang kreator, menyaksikan berbagai konten dengan konsep kuis dadakan di media sosial.
“Ada banyak konten sejenis yang menginspirasi. Tapi dari segi konsep editing dan dialog, Bus Stop Trivia dari The Raffle Kid adalah yang paling saya adaptasi,” ujar Rahman, yang juga seorang jurnalis ini.
Sebelum akhirnya mengunggah episode pertama, Rahman sempat dua pekan memikirkan konsep serta judul konten yang cocok. Mengingat, di Tarakan, halte bus bukanlah spot favorit masyarakat.
“Terus kepikiran di lampu merah. Tapi namanya apa? Sempat mau Traffic Light Trivia, Cerdas Cermat Lampu Merah, Trivia Lampu Merah, sampai akhirnya pilih Kuis Lampu Merah,” sebut kreator 35 tahun ini.
Selain lebih mudah diingat, Rahman juga tidak mau terlampau copy-paste dari tajuk konten orang lain. Terutama dari segi konsep. Sebab sejauh yang dia amati, saat Kuis Lampu Merah dimulai, belum ada kreator Indonesia ataupun luar negeri yang pakai konsepnya.
“Sekarang sudah banyak kuis sejenis di Indonesia. Ada yang konsepnya di halte, pangkalan ojol, depan sekolah, bahkan di lampu merah dengan konsep yang hampir sama,” kata Rahman.
Menurutnya, secara aturan atau hukum, tidak ada yang dilanggar. Bahkan beberapa, kata dia, beberapa pengikut meminta izin langsung untuk mengimitasi Kuis Lampu Merah di daerah mereka.
“Saya juga tidak patenkan konsep ini di HAKI. Jadi ya bebas aja kalau mau pakai konsep ini,” sambungnya.
Kuis Lampu Merah garapan akun @rahmansaeroni kini menjadi salah satu pionir konten kuis jalanan di Indonesia. Di platform Tiktok, salah satu episode yang diproduksi di Balikpapan, mendulang 14,2 juta views. Beberapa lainnya juga menembus jutaan views di Instagram dan Facebook.
“Jadi saya memang ada produksi di beberapa kota, karena kebetulan sedang dinas luar. Dan alhamdulillah, banyak yang ramai penontonnya, termasuk yang di Balikpapan Baru itu,” sebut dia.
Konten yang ramai penonton pun diikuti banyaknya pihak yang ingin mensponsori hadiah Kuis Lampu Merah. Bahkan, Rahman mengungkapkan kalau dari 90 episode yang tayang, hanya lima tayangan yang menggunakan uang pribadinya.
“Alhamdulillah sisanya sponsor. Kita bantu juga pemilik usaha promosikan bisnisnya. Kebanyakan UMKM, jadi saya juga tidak terapkan rate card seperti KOL lain,” tandas pria yang juga seorang komika ini.
Menurut Rahman, niat awal dia membuat konten adalah untuk menyalurkan kegemarannya pada trivia, terutama terkait geografi. Dikarenakan kontennya berlanjut, jenis pertanyaan pun semakin bervariasi.
“Saya kebetulan suka wawasan umum, terutama tentang teritori nusantara dan internasional. Dulu juga waktu sekolah suka ikut olimpiade, jadi ini semacam inner child juga,” tutup Rahman sambil tertawa. (man)
Editor : Nur Rahman