Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Ekonomi Global Tertekan, Pilih Investasi atau Spekulasi?

Azward Halim • Jumat, 13 Februari 2026 | 23:59 WIB

ILUSTRASI
ILUSTRASI
TARAKAN - Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai data dan proyeksi menunjukkan ekonomi global diperkirakan menghadapi guncangan hingga akhir 2026. Ketidakpastian ini memunculkan kekhawatiran di berbagai sektor, sekaligus mendorong masyarakat untuk mencari strategi pengelolaan keuangan yang lebih bijak, termasuk melalui investasi.

Pakar ekonomi sekaligus akademisi dari Universitas Borneo Tarakan, Dr. Margiyono, menyebut investasi merupakan instrumen penting dalam perekonomian karena mampu menciptakan nilai tambah, baik secara finansial maupun sosial. Namun, ia menilai masih banyak masyarakat yang keliru memahami makna investasi.

“Kita luruskan dulu definisi investasi. Belakangan ini banyak yang membeli tanah, emas, kripto, dan lainnya, lalu menyebutnya investasi. Padahal, investasi itu sejatinya adalah menanamkan modal agar menghasilkan manfaat. Setidaknya ada tiga manfaat yang muncul. Pertama, manfaat finansial bagi pemilik modal. Kedua, manfaat ekonomi karena menimbulkan dampak perputaran. Ketiga, manfaat sosial karena ada pihak lain yang turut merasakan hasil dari investasi tersebut,” ujar Margiyono, Selasa (10/2).

Ia mencontohkan, apabila masyarakat dengan kemampuan ekonomi besar hanya menyimpan kekayaan dalam bentuk aset pasif seperti tanah atau emas, maka perputaran ekonomi dapat terhambat. “Bayangkan jika orang-orang kaya di Indonesia hanya menyimpan uangnya dalam bentuk tanah atau emas. Ekonomi bisa kolaps karena tidak ada perputaran. Uang tidak bergerak dan tidak menciptakan aktivitas produktif,” jelasnya.

Menurutnya, investasi seharusnya diarahkan pada sektor produktif yang mampu mendorong pembangunan dan membuka peluang ekonomi baru. “Dulu ada semangat ‘menabung untuk membangun’. Artinya, dana yang dihimpun harus memberi manfaat luas, terutama bagi masyarakat,” tambahnya.

Margiyono juga mengingatkan pentingnya kesiapan finansial sebelum memutuskan berinvestasi. Ia menyarankan agar setiap individu memastikan kebutuhan dasar pribadi dan rumah tangga telah terpenuhi.

“Kalau kebutuhan sudah cukup, langkah berikutnya adalah menyiapkan dana darurat untuk berjaga-jaga. Setelah dana tersebut aman dan memadai, barulah kita bisa berpikir untuk masuk ke instrumen investasi,” ulasnya.

Ia menegaskan, keputusan berinvestasi sebaiknya didasarkan pada perencanaan matang, bukan sekadar mengikuti tren atau spekulasi di tengah ketidakpastian ekonomi global. (lim)

 

Tips berinvestasi aman:

  1. Pahami Tujuan Investasi

Tentukan sejak awal apakah investasi ditujukan untuk menambah penghasilan pasif atau lainnya. Tujuan yang jelas akan menentukan pilihan instrumen dan jangka waktu investasi.

  1. Pastikan Kebutuhan Dasar dan Dana Darurat Aman

Sebelum berinvestasi, pastikan kebutuhan hidup dan dana darurat telah terpenuhi. Idealnya, dana darurat mencukupi 3-6 bulan pengeluaran agar investasi tak terganggu `saat kondisi mendesak.

  1. Kenali Profil Risiko

Setiap orang memiliki toleransi risiko berbeda. Sesuaikan pilihan dengan kemampuan menanggung risiko.

  1. Pilih Instrumen yang Produktif

Investasi yang baik adalah yang mendorong perputaran ekonomi dan memberi nilai tambah, bukan sekadar menyimpan aset. Pastikan dana yang ditanamkan berpotensi menghasilkan manfaat finansial sekaligus berdampak positif.

  1. Lakukan Diversifikasi

Jangan menaruh seluruh dana pada satu instrumen. Sebar investasi ke beberapa sektor atau produk untuk meminimalkan risiko kerugian besar.

  1. Hindari Ikut Tren Tanpa Analisis

Jangan mudah tergiur iming-iming keuntungan cepat. Lakukan riset, pahami legalitas, dan pastikan platform atau lembaga investasi diawasi otoritas resmi.

  1. Berorientasi Jangka Panjang

Investasi membutuhkan waktu. Hindari keputusan emosional akibat fluktuasi pasar jangka pendek.

 

 

Editor : Azward Halim