TANJUNG SELOR – Tenguyun Ride Tour de Boeloengan yang merupakan bagian dari rangkaian Tenguyun Fest 2026 tak hanya menjadi ajang olahraga dan berkumpulnya komunitas sepeda pada Minggu (20/9).
Kegiatan tersebut juga menjadi ruang inklusi bagi teman tuli untuk beraktivitas dan berinteraksi secara setara dengan masyarakat.
Kegiatan yang start dan finis di Unikal itu diikuti ratusan goweser dari berbagai komunitas sepeda di Bulungan.
Salah satunya Deaf Cycling X Faqih Hasan Centre, yang melibatkan teman tuli dan disabilitas bersama Bupati Syarwani dalam kegiatan bersepeda keliling Tanjung Selor dengan melewati sejumlah jalan protokol.
Ketua Yayasan Faqih Hasan Centre Kaltara Hasanuddin mengatakan, keterlibatan teman tuli dalam rangkaian Tenguyun Ride Tour de Boeloengan menjadi bentuk nyata penerapan inklusi dan kesetaraan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Ini bentuk inklusi dan kesetaraan dalam semua aspek kehidupan di Kaltara, terkhusus di Bulungan. Selama ini teman tuli sebagai salah satu rumpun disabilitas tidak pernah mendapatkan ruang untuk hidup setara sebagaimana layaknya masyarakat nondisabilitas,” ujar Hasanuddin.
Menurutnya, kegiatan gowes memberikan pengalaman berbeda bagi teman tuli karena mereka dapat mengambil bagian dalam kegiatan publik bersama masyarakat tanpa sekat disabilitas.
“Melalui kegiatan gowes ini, teman tuli merasakan penerimaan, arti kesetaraan dan inklusi yang nyata,” katanya.
Hasanuddin berharap keterlibatan penyandang disabilitas dalam kegiatan publik tidak berhenti padaTenguyun Ride Tour de Boeloengan.
Ruang partisipasi yang setara, menurutnya, perlu terus dibuka dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk olahraga, sosial, budaya dan kegiatan kemasyarakatan.
Kehadiran teman tuli dalam Tenguyun Ride Tour de Boeloengan sekaligus menunjukkan bahwa rangkaian Tenguyun Fest 2026 tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga wadah perjumpaan berbagai kelompok masyarakat dalam semangat kebersamaan, penerimaan dan kesetaraan.(*)
Editor : Sophian Hadi