Pasar Ayam Bulungan Masih Bergantung dari Luar, Syarwani Dorong Peternakan Lokal

Taslee • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 05:59 WIB
BULAN BAKTI ; Bupati Bulungan Syarwani membuka kegiatan bulan bakti peternakan Bulungan.  
(Taslee/Radar Tarakan)
BULAN BAKTI ; Bupati Bulungan Syarwani membuka kegiatan bulan bakti peternakan Bulungan. (Taslee/Radar Tarakan)

 

TANJUNG SELOR – Kebutuhan ayam potong di Kabupaten Bulungan yang mencapai ribuan ekor setiap hari belum sepenuhnya mampu dipenuhi peternak lokal.

Dari kebutuhan sekitar 8.000 ekor per hari, produksi peternak di daerah ini baru berada di kisaran 1.500 ekor.

Kesenjangan tersebut dinilai Bupati Bulungan Syarwani sebagai peluang usaha yang masih sangat terbuka.

Pemerintah daerah mendorong masyarakat, khususnya pemerintah desa, untuk menangkap kebutuhan pasar tersebut melalui pengembangan usaha peternakan unggas.

Hal itu disampaikan Syarwani ketika membuka puncak Bulan Bakti Peternakan Bulungan 2026 yang digelar Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan di Rumah Potong Hewan (RPH) Dinas Pertanian Bulungan, Selasa (15/9).

Menurut Syarwani, kebutuhan ayam potong yang cukup besar menunjukkan pasar di Bulungan sebenarnya sudah tersedia.

Persoalannya, produksi dari peternak lokal masih belum mampu mengejar kebutuhan tersebut.

“Sekitar 6.500 ekor masih didatangkan dari luar daerah, yakni dari Kabupaten Berau dan Kota Tarakan. Ini menunjukkan peluang usaha peternakan unggas di Bulungan masih sangat besar,” kata Syarwani.

Ia menilai kondisi tersebut tidak semata-mata menjadi persoalan pasokan pangan, tetapi juga dapat dibaca sebagai kesempatan bagi masyarakat untuk membangun usaha produktif.

Peningkatan produksi lokal dinilai dapat memberikan dampak berantai, mulai dari pemenuhan kebutuhan ayam hingga pembukaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan.

Pemkab Bulungan pun mulai menyiapkan skema agar pengembangan peternakan dapat dilakukan dari tingkat desa.

Pemerintah desa didorong membentuk dan mengembangkan kelompok usaha produktif yang disesuaikan dengan potensi serta kebutuhan pasar setempat.

Salah satu dukungan yang tengah disiapkan ialah pemanfaatan Alokasi Dana Desa (ADD).

Melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), pemerintah daerah akan memperkuat regulasi agar dukungan terhadap usaha produktif desa tersebut dapat diterapkan lebih efektif mulai 2027.

“Desa harus mulai melihat usaha yang memiliki pasar. Peternakan unggas salah satunya, karena kebutuhan daerahnya sudah jelas,” ujarnya.

Pakan Jadi Persoalan

Di balik peluang pasar yang besar, Syarwani mengakui masih terdapat sejumlah kendala yang harus dibenahi.

Salah satunya biaya pakan yang menjadi komponen cukup besar dalam usaha peternakan unggas.

Pakan, kata dia, dapat menyumbang sekitar 40 persen dari keseluruhan biaya produksi.

Sementara sebagian kebutuhan pakan masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Kondisi itu membuat biaya produksi peternak relatif tinggi.

Karena itu, pemerintah daerah juga melihat pentingnya pengembangan pakan ternak berbasis bahan baku lokal.

Syarwani mengatakan bahan-bahan lokal yang memiliki potensi perlu dikembangkan dengan dukungan teknologi.

Pengolahan yang tepat diharapkan mampu menghasilkan pakan dengan kandungan nutrisi sesuai kebutuhan ternak sekaligus menekan biaya produksi.

Upaya tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan produksi ternak, tetapi juga membangun mata rantai usaha peternakan dari sektor hulu hingga hilir di Bulungan.

Penguatan SDM

Dalam kesempatan tersebut, Syarwani turut memaparkan sejumlah agenda pemerintah daerah yang berkaitan dengan penguatan sumber daya manusia dan pendidikan.

Salah satunya rencana kerja sama dengan Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk membuka fakultas yang nantinya memanfaatkan kawasan eks tambang di Kelubir sebagai laboratorium lapangan.

Pemkab Bulungan juga mempersiapkan program Bulungan Mengajar yang ditargetkan mulai dilaksanakan pada 2027.

Program tersebut akan melibatkan kepala organisasi perangkat daerah (OPD) dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

Syarwani berharap berbagai program pembangunan tersebut dapat saling terhubung.

Penguatan sektor peternakan, menurutnya, bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, tetapi juga menyangkut ekonomi masyarakat dan pemanfaatan potensi daerah.

Dengan kebutuhan pasar ayam yang masih jauh di atas kemampuan produksi lokal, pemerintah daerah melihat pengembangan peternakan unggas sebagai salah satu sektor yang berpotensi dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah. (*)

Editor : Sophian Hadi
Syarwani bupati pemkab bulungan