TANJUNG SELOR – Kebutuhan daging ayam masyarakat Bulungan mencapai sekitar 8.000 ekor per hari atau setara kurang lebih 6 ton. Namun, kebutuhan tersebut baru mampu dipenuhi peternak lokal sekitar 1.500 ekor per hari. Akibatnya, sekitar 6.500 ekor ayam masih harus didatangkan dari luar daerah.
Bupati Bulungan, Syarwani mengatakan, pasokan dari luar daerah saat ini berasal dari Berau dan Tarakan. Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan masih besarnya peluang pengembangan usaha peternakan ayam di Bulungan. “Pemenuhan kebutuhan unggas di Kabupaten Bulungan sebanyak 8.000 ekor atau kurang lebih 6 ton daging ini hanya mampu dipasok peternak unggas di Bulungan kurang lebih 1.500 ekor,” kata Syarwani kepada Radar Kaltara, Selasa (15/9).
Menurutnya, ketergantungan terhadap pasokan luar daerah harus dilihat sebagai peluang untuk memperkuat sektor peternakan lokal. Pemerintah tidak hanya ingin peternak Bulungan memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri, tetapi juga berkembang hingga mampu memasok kebutuhan daerah tetangga.
“Kita ingin peternakan lokal mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Bulungan, bahkan ke depan bisa menjadi pemasok bagi daerah tetangga,” ujarnya.
Karena itu, Pemda Bulungan mendorong desa mengambil peran dalam pengembangan usaha ekonomi produktif, khususnya peternakan ayam potong. Salah satu skema yang disiapkan adalah pemanfaatan Alokasi Dana Desa (ADD) untuk mendukung kelompok usaha produktif di tingkat desa.
“Mudah-mudahan tahun 2027 bisa dibuka bagaimana pengembangan kelompok produktif, usaha produktif di setiap desa melalui penggunaan skema Alokasi Dana Desa,” ungkap Syarwani.
Melalui skema tersebut, Pemda Bulungan berharap kepala desa (kades) memiliki panduan yang lebih jelas dalam menggerakkan kegiatan ekonomi produktif. Sektor peternakan unggas dinilai menjadi salah satu bidang yang memiliki pasar cukup besar karena kebutuhan masyarakat Bulungan setiap hari masih belum seluruhnya dipenuhi peternak lokal.
“Ini bisa menjadi panduan bagi kepala desa untuk menggerakkan usaha-usaha ekonomi produktif, khususnya di bidang peternakan unggas,” jelasnya.
Pengembangan tersebut juga akan diperkuat melalui regulasi. Syarwani menyebut Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Bulungan akan menyiapkan penguatan kebijakan agar pada 2027 pengembangan kelompok usaha produktif di desa memiliki ruang yang lebih jelas. “Pemerintah daerah melalui DPMD akan memperkuat regulasi sehingga pengembangan usaha ekonomi produktif di desa memiliki ruang yang lebih jelas,” katanya.
Selain persoalan produksi, biaya pakan menjadi tantangan lain yang harus diatasi. Syarwani menyebut pakan menyumbang sekitar 40 persen dari biaya pokok produksi peternakan unggas. Ketergantungan terhadap pasokan pakan dari luar wilayah membuat efisiensi usaha peternak masih menjadi pekerjaan rumah.
“Salah satu komponen terbesar biaya produksi adalah pakan yang mencapai sekitar 40 persen dari biaya pokok produksi,” tegasnya.
Pemda Bulungan pun mulai melihat peluang produksi pakan secara lokal. Menurutnya, daerah memiliki sumber bahan baku pakan yang cukup melimpah sehingga tinggal membutuhkan dukungan teknologi pengolahan agar dapat memenuhi kebutuhan nutrisi dan vitamin unggas.
“Kita tahu di Bulungan sumber bahan baku pakan cukup banyak dan melimpah. Tinggal bagaimana sentuhan teknologinya, seperti pemenuhan kebutuhan vitamin dan nutrisi pakan sesuai dengan konsumsi dan kebutuhan unggas di Bulungan,” paparnya.
Jika produksi pakan lokal dapat dikembangkan, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah diharapkan berkurang. Pada saat yang sama, biaya produksi peternak bisa ditekan sehingga usaha peternakan unggas menjadi lebih kompetitif dan berkelanjutan. “Kalau produksi pakan lokal dapat diwujudkan, kita berharap ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat ditekan sekaligus menurunkan biaya produksi peternak,” ujarnya.
Syarwani juga menyampaikan sejumlah agenda pembangunan yang berkaitan dengan penguatan potensi daerah. Salah satunya rencana pembukaan fakultas oleh Universitas Padjadjaran di wilayah Bulungan dengan laboratorium lapangan yang direncanakan berada di kawasan Kelubir, eks tambang PT PKN.
“Laboratorium lapangan rencananya berada di kawasan Kelubir, eks tambang PT PKN,” katanya.
Pengembangan kawasan tersebut, lanjut Syarwani, diharapkan tidak hanya berfokus pada bidang pascatambang. Potensi budidaya perikanan juga dinilai dapat dikembangkan sehingga kawasan tersebut memiliki fungsi yang lebih luas bagi pengembangan sumber daya daerah. “Kita berharap pengembangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan bidang pascatambang, tetapi juga dapat diperkuat dengan pengembangan budidaya perikanan,” ungkapnya.
Di sektor pendidikan, Pemkab Bulungan juga menyiapkan program Bulungan Mengajar yang akan mulai didorong pada 2027. Program tersebut nantinya melibatkan kepala organisasi perangkat daerah (OPD) untuk ikut berkontribusi dalam proses pembelajaran di jenjang SD dan SMP.
“Bulungan Mengajar akan kita dorong mulai 2027 dengan melibatkan kepala OPD untuk ikut berkontribusi dalam kegiatan pembelajaran,” jelas Syarwani.
Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia bukan semata-mata tanggung jawab guru maupun tenaga kesehatan. Pemda Bulungan melalui seluruh perangkat daerah juga harus mengambil peran dalam memperkuat kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat. “Tidak hanya tanggung jawab teman-teman tenaga kesehatan dan tenaga guru, tetapi juga hadir pemerintah daerah dalam arti luas melalui perangkat daerahnya,” tegasnya.
Syarwani berharap berbagai agenda tersebut dapat menjadi bagian dari gerakan bersama untuk memperkuat sektor pertanian dan peternakan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Upaya tersebut diharapkan mampu mendorong potensi peternakan menjadi kekuatan ekonomi daerah dan mengurangi ketergantungan pangan dari luar.
“Kita ingin potensi peternakan ini benar-benar menjadi kekuatan ekonomi sekaligus memperkecil ketergantungan Bulungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah,” pungkasnya. (jai)