TANJUNG SELOR – Kemenag Bulungan mewaspadai penyebaran paham ekstremisme dan intoleransi di tengah derasnya arus informasi digital. Penguatan moderasi beragama terus didorong sebagai upaya menjaga kerukunan sekaligus membentengi generasi muda dari pengaruh negatif di ruang digital.
Kepala Kemenag Bulungan, H. Sapriansyah Alie mengatakan, keberagaman agama, budaya dan latar belakang sosial masyarakat Bulungan membutuhkan penguatan moderasi beragama secara berkelanjutan. “Moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama, tetapi membangun cara pandang dan sikap yang seimbang, saling menghargai, menolak kekerasan, serta memperkuat kecintaan terhadap bangsa dan negara,” kata Sapriansyah kepada Radar Kaltara, Minggu (13/9).
Menurutnya, tantangan moderasi beragama semakin kompleks seiring perkembangan teknologi digital. Informasi keagamaan kini dapat tersebar dengan cepat, termasuk konten yang mengandung paham ekstrem, intoleransi maupun informasi yang keliru. “Digitalisasi menjadi peluang untuk memperluas pelayanan dan informasi keagamaan, tetapi di sisi lain juga menjadi ruang yang dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan paham ekstrem dan intoleransi,” ungkapnya.
Karena itu, Kemenag Bulungan mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi keagamaan di media digital. Edukasi keagamaan juga terus diperkuat melalui berbagai platform yang dekat dengan kehidupan anak muda. “Kita harus memperkuat edukasi keagamaan melalui platform digital agar generasi muda mendapatkan informasi yang benar dan tidak mudah terpengaruh informasi yang keliru,” jelasnya.
Sapriansyah juga menilai kearifan lokal dapat menjadi salah satu benteng dalam memperkuat moderasi beragama. Nilai kebersamaan dan gotong royong yang hidup di tengah masyarakat Bulungan dinilai sejalan dengan semangat menjaga kerukunan. “Nilai kebersamaan dan gotong royong merupakan bagian dari kearifan lokal yang harus terus diperkenalkan kepada generasi muda,” ungkapnya.
Menurut dia, upaya mencegah masuknya paham ekstrem tidak dapat hanya dibebankan kepada Kemenag. Diperlukan kolaborasi dengan satuan pendidikan, pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, orang tua, serta berbagai pihak terkait. “Menjaga generasi muda dari pengaruh negatif membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk sekolah, pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan orang tua,” tegasnya.
Pendekatan pencegahan juga diarahkan pada pendidikan berbasis cinta dan penguatan karakter. Generasi muda diharapkan tidak hanya memiliki pemahaman agama yang baik, tetapi juga mampu menghargai perbedaan, memiliki kepedulian sosial, dan menjaga persatuan. “Anak tidak hanya harus memiliki pengetahuan agama, tetapi juga tumbuh dengan sikap menghargai sesama, memiliki kepedulian sosial, dan mencintai bangsa,” pungkasnya. (jai)
Editor : Azward Halim