TANJUNG SELOR – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi perhatian serius di wilayah kerja Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan V Tanjung Selor. Selain sejumlah kejadian di Kabupaten Bulungan, kondisi lebih intens terjadi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang sempat mencatat ratusan titik panas.
Kepala BWS Kalimantan V Tanjung Selor Mustafa, S.ST., M.T. mengatakan, berdasarkan informasi yang diterima dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), jumlah hotspot di Berau pernah mencapai ratusan titik dalam satu periode.
“Untuk wilayah Kalimantan Timur, yang paling banyak titik hotspot itu di Berau. Pernah 200-an, 300-an, bahkan hampir 400 titik panas dalam satu periode. Di sana memang kondisinya cukup panas dan sudah lama tidak mendapatkan hujan,” ungkap Mustafa.
Kondisi cuaca tersebut membuat potensi kebakaran meningkat. Karena itu, BWS menyiapkan tim khusus untuk mendukung penanganan Karhutla di wilayah Berau. “Tim kita sekitar 15 orang. Saat ada kejadian mereka turun bersama TNI-Polri, BPBD, Damkar dan masyarakat. Kadang pekerjaannya sampai malam karena titik api harus benar-benar dikendalikan,” katanya.
Selain personel, BWS juga mengoperasikan dua unit mobil water tank untuk mendukung proses pemadaman. Armada tersebut berfungsi menyuplai air ketika kendaraan pemadam di lapangan membutuhkan tambahan pasokan.
“Kami operasikan dua mobil water tank. BPBD punya dua unit, Damkar juga punya dua unit, lalu kami mendukung airnya. Selang mereka bisa mencapai 300 sampai 500 meter, sehingga ketika air di kendaraan pemadam kurang, water tank kami langsung menyuplai,” jelasnya.
Menurut Mustafa, penanganan Karhutla di Berau tidak bisa hanya mengandalkan satu instansi. Kolaborasi antarlembaga menjadi kunci, terutama ketika titik api muncul di lokasi yang sulit dijangkau.
BWS bersama BPBD, Damkar, TNI-Polri dan masyarakat bergerak setelah menerima informasi mengenai kebakaran. Laporan tersebut dapat berasal dari aparat maupun warga.
“Informasinya bisa dari Polsek, Babinsa atau masyarakat. Begitu informasi masuk, teman-teman langsung turun. Kami bawa kendaraan bersama BPBD dan Damkar, kemudian langsung ke lokasi untuk melakukan pemadaman,” ujarnya.
Ia mengakui kondisi di lapangan cukup berat. Kebakaran yang mulai terjadi sejak pagi dan kemudian meluas dapat membuat proses pemadaman berlangsung hingga malam.
“Kerja teman-teman di lapangan memang berat. Ada yang mulai jam 10 pagi, tetapi karena apinya meluas, pemadaman baru selesai malam. Namun dengan koordinasi bersama, alhamdulillah bisa dipadamkan. Tidak seperti beberapa daerah lain yang sampai berhari-hari,” tuturnya.
Sementara itu, di wilayah Kaltara, beberapa kejadian Karhutla tercatat terjadi di Kabupaten Bulungan. Lokasi yang sempat ditangani antara lain Apung, Salimbatu, Mangkupadi dan Tanah Kuning.
Sebagian kebakaran terjadi di kawasan perkebunan sawit dan lahan gambut. Kondisi lahan tersebut membuat api harus segera dikendalikan agar tidak meluas. “Di Bulungan beberapa kali ada kejadian di Apung, Salimbatu, Mangkupadi dan Tanah Kuning. Kebanyakan memang di daerah kebun sawit, ada juga lahan gambut,” kata Mustafa.
Untuk memperkuat respons di Kaltara, BWS menyiagakan empat unit water tank yang dapat dikerahkan ke Bulungan, Tana Tidung maupun Malinau. “Kami siapkan empat unit mobil water tank untuk mendukung Bulungan, Tana Tidung dan Malinau. Kendaraan itu kami siagakan. Setelah kembali dari lokasi, langsung diisi lagi sehingga ketika ada laporan baru, bisa bergerak kembali,” jelasnya.
Pemantauan hotspot dilakukan dengan memanfaatkan informasi BMKG. Data tersebut kemudian diteruskan melalui jaringan koordinasi kepada aparat dan tim lapangan.
“BMKG memberikan informasi titik panas, lalu kami teruskan ke grup lapangan. Titik hotspot di wilayah tertentu langsung kami sampaikan agar diwaspadai. Jadi Polsek, Koramil dan masyarakat sudah terhubung,” katanya.
Mustafa menegaskan, pola penanganan cepat tersebut dilakukan agar api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar. Setiap kejadian juga dilaporkan kepada Satgas Kementerian PU sebagai bagian dari evaluasi dan pemantauan penanganan Karhutla.
“Laporan kejadian kami sampaikan setiap hari kepada pimpinan di Satgas Kementerian PU. Operasionalnya memang tidak sedikit, terutama BBM dan kebutuhan kendaraan. Air bisa kami ambil dari sumber yang tersedia, termasuk berkoordinasi dengan PDAM. Jadi semua pihak saling mendukung di lapangan,” pungkasnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT