TANJUNG SELOR – Palang Merah Indonesia (PMI) Kaltara menyalurkan donasi masyarakat sebesar Rp 87.506.700 untuk membantu warga terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bantuan tersebut diserahkan di Markas PMI Kaltara, Jumat (11/9) pagi.
Ketua PMI Kaltara, H. Risdianto mengatakan, dana tersebut merupakan hasil penggalangan donasi yang dilakukan PMI bersama jajaran PMI kabupaten dan kota se-Kaltara. “Berdasarkan hasil penggalangan, telah terkumpul kurang lebih Rp87.506.700. Dana ini akan kami salurkan untuk saudara-saudara kita yang terdampak gempa di NTT,” kata Risdianto kepada Radar Kaltara, Jumat (11/9).
Risdianto menjelaskan, PMI Kaltara telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak di wilayah terdampak. Bantuan akan disalurkan kepada Pemerintah Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Ngada, dan Kabupaten Manggarai Timur melalui PMI di masing-masing wilayah. “Pemanfaatannya tentu akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di wilayah terdampak. Pemerintah daerah dan PMI akan berkolaborasi menentukan strategi penanganannya,” ungkapnya.
Menurutnya, besaran donasi yang terkumpul memang relatif terbatas. Namun, nilai tersebut tidak mengurangi makna kepedulian masyarakat Kaltara terhadap korban bencana. “Memang kalau uang ini relatif kecil, karena ini merupakan dana yang kita kumpulkan dari donasi masyarakat. Tetapi yang terpenting adalah kepedulian dan semangat kemanusiaannya,” tegas Risdianto.
Ia menambahkan, PMI di daerah terdampak memiliki kewenangan menentukan prioritas penggunaan bantuan sesuai kebutuhan di lapangan. Bantuan dapat diarahkan untuk kebutuhan sosial kemasyarakatan, kesehatan, pengobatan maupun kebutuhan lain yang berkaitan dengan penanganan dampak bencana.
“PMI sejalan dengan misi kemanusiaan. Setiap penggalangan dana dan donasi selalu kami publikasikan secara resmi sebagai bentuk pertanggungjawaban,” jelasnya.
Selain bantuan dana, PMI Kaltara juga siap mengerahkan relawan apabila kondisi bencana membutuhkan intervensi langsung. Relawan PMI memiliki berbagai kompetensi, mulai kesehatan, sosial kemasyarakatan, psikologi hingga logistik.
“Kalau bencananya besar, kita melihat skalanya. Berdasarkan diskusi dengan PMI Pusat, kalau memang diperlukan intervensi, kita akan intervensi dan mengirimkan relawan,” katanya.
Risdianto mencontohkan, PMI sebelumnya juga pernah mengirimkan personel untuk membantu penanganan bencana besar, salah satunya di Palu. Menurutnya, relawan yang diterjunkan telah mendapatkan pelatihan dan sertifikasi sesuai bidang keahlian masing-masing.
“Ketika ada bencana, PMI memiliki beberapa spesifikasi keahlian. Ada yang bergerak di bidang kesehatan, sosial, psikologi masyarakat terdampak, termasuk logistik,” ungkapnya.
Tidak hanya menangani dampak gempa bumi, PMI Kaltara juga terus terlibat dalam penanganan berbagai bencana di daerah, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kehadiran relawan menjadi bagian dari respons kemanusiaan untuk membantu masyarakat yang terdampak langsung maupun tidak langsung. Risdianto menegaskan, PMI akan terus hadir selama terdapat masyarakat yang membutuhkan bantuan akibat bencana.
“Pokoknya di mana ada bencana dan ada manusia yang terdampak di dalamnya, PMI akan turun. PMI akan hadir. Itu menjadi komitmen kita,” pungkasnya. (jai)
Editor : Azward Halim