Inflasi Bulungan Agustus 1,44 Persen, Transportasi Paling Dominan

Fijai RT • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 14:18 WIB
TRANSPORTASI : Speedboat berlabuh di Pelabuhan di Pelabuhan Kayan II, Tanjung Selor.
TRANSPORTASI : Speedboat berlabuh di Pelabuhan di Pelabuhan Kayan II, Tanjung Selor.

TANJUNG SELOR – Inflasi Bulungan pada Agustus 2026 mencapai 1,44 persen secara tahunan year on year (yoy). Kenaikan harga paling kuat berasal dari kelompok transportasi yang mengalami inflasi 6,78 persen dan memberikan andil terbesar terhadap laju inflasi daerah.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bulungan Yuda Agus Irianto mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan perkembangan harga, Indeks Harga Konsumen (IHK) Bulungan naik dari 109,46 pada Agustus 2025 menjadi 109,54 pada Agustus 2026.

“Pada Agustus 2026 terjadi inflasi year on year sebesar 1,44 persen,” kata Yuda kepada Radar Kaltara, Kamis (3/9).

Selain secara tahunan, pergerakan harga pada Agustus juga tercatat mengalami inflasi secara bulanan. Yuda menyebut inflasi month to month (mtm) berada di level 0,27 persen, sedangkan inflasi sejak awal tahun year to date (ytd) mencapai 1,18 persen.

“Untuk tingkat inflasi month to month dan year to date, masing-masing sebesar 0,27 persen dan 1,18 persen,” ujarnya.

Kelompok transportasi menjadi penyumbang paling besar terhadap inflasi tahunan Bulungan. Berdasarkan catatan BPS, kelompok tersebut mengalami kenaikan indeks sebesar 6,78 persen dengan andil inflasi mencapai 0,91 persen.

“Kelompok transportasi menjadi salah satu kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks pada Agustus,” jelas Yuda.

Tekanan harga juga datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi 6,22 persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran turut mengalami kenaikan sebesar 4,41 persen, sedangkan kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya mencapai 3,33 persen. “Kenaikan indeks juga terjadi pada beberapa kelompok pengeluaran lainnya,” katanya.

Sementara itu, kelompok pakaian dan alas kaki mencatat inflasi 2,63 persen, kesehatan 1,64 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,67 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,03 persen. “Perubahan harga tersebut menjadi bagian dari dinamika perkembangan harga yang dipantau BPS selama Agustus,” ujarnya.

Dari sisi komoditas, emas perhiasan, biaya pemeliharaan atau servis, pelumas/oli mesin, angkutan udara, daging ayam ras, minyak goreng, bensin, perbaikan ringan kendaraan, tempe dan bubur menjadi komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi yoy.

“Komoditas-komoditas tersebut memberikan sumbangan terhadap inflasi tahunan pada Agustus,” terang Yuda.

Namun, tidak seluruh komoditas mengalami kenaikan harga. Sejumlah bahan pangan justru memberikan tekanan deflasi, di antarnya bawang merah, cabai rawit, tomat, telur ayam ras dan bawang putih. “Ada juga komoditas yang memberikan andil atau sumbangan deflasi y-on-y,” tuturnya.

Selain itu, penurunan harga juga terjadi pada sabun detergen bubuk, hand body lotion, bayam, sawi hijau, dan kangkung. Kondisi tersebut turut menahan laju inflasi yang terjadi selama periode tahunan. “Penurunan harga pada beberapa komoditas ikut memberikan kontribusi terhadap deflasi,” imbuh Yuda.

Untuk pergerakan harga secara bulanan, daging ayam ras menjadi salah satu komoditas yang paling dominan memberikan andil inflasi. Komoditas lainnya meliputi biaya pemeliharaan/servis, pelumas atau oli mesin, perbaikan ringan kendaraan, udang basah, ikan layang/ikan benggol, emas perhiasan, air kemasan, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, serta rampela hati ayam.

“Secara month to month, terdapat beberapa komoditas yang memberikan sumbangan terhadap inflasi Agustus,” ungkapnya.

Sebaliknya, tekanan deflasi bulanan berasal dari sejumlah komoditas pangan. Cabai rawit, bawang merah, tomat, ikan bandeng/ikan bolu, telur ayam ras, bawang putih, sawi hijau, bensin, dan bayam tercatat memberikan andil terhadap deflasi mtm.

“Komoditas tersebut mengalami penurunan harga dan memberikan sumbangan deflasi secara bulanan,” kata Yuda.

Jika dilihat berdasarkan kontribusi kelompok pengeluaran, selain transportasi sebesar 0,91 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil inflasi 0,42 persen. Kemudian penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,28 persen serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,15 persen.

“Kontribusi masing-masing kelompok menunjukkan sumber tekanan harga yang terjadi selama periode Agustus,” jelasnya.

Kelompok pakaian dan alas kaki juga memberikan andil inflasi sebesar 0,12 persen, kesehatan 0,04 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya 0,03 persen. Sementara kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penahan inflasi dengan andil deflasi sebesar 0,47 persen. “Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil deflasi terbesar pada Agustus,” pungkasnya. (jai)

Editor : Azward Halim
BPS Bulungan Inflasi Bulungan transportasi