Jarak Pandang di Bulungan 2 Kilometer, BMKG Minta Transportasi Laut Waspada

Fijai RT • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 16:23 WIB
KABUT ASAP : Speedboat berlayar di tengah kabut asap di wilayah Tanjung Selor.
KABUT ASAP : Speedboat berlayar di tengah kabut asap di wilayah Tanjung Selor.
 TANJUNG SELOR – Jarak pandang di wilayah Tanjung Selor hanya mencapai 2 kilometer (km) pada Minggu (30/8). Kondisi tersebut masuk kategori jarak pandang terbatas dan dinilai kurang aman bagi aktivitas pelayaran dengan kecepatan normal. 

Forecaster Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan, Farid Hardiansyah mengatakan, kondisi jarak pandang tersebut perlu menjadi perhatian, khususnya bagi pengguna transportasi laut. “Jarak pandang di Tanjung Selor adalah 2 kilometer. Jarak pandang 2 km termasuk jarak pandang terbatas dan kurang aman untuk berlayar dengan kecepatan normal,” kata Farid kepada Radar Kaltara, Minggu (30/8).

Karena itu, Farid mengimbau operator maupun pengguna transportasi laut meningkatkan kewaspadaan saat melakukan pelayaran. Kecepatan kapal juga disarankan dikurangi untuk mengantisipasi keterbatasan jarak pandang. 
“Disarankan untuk transportasi laut meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi kecepatan demi menjaga keselamatan,” ungkapnya.

Selain jarak pandang terbatas, kondisi kualitas udara di Tanjung Selor juga menunjukkan peningkatan konsentrasi PM2.5. Berdasarkan pemantauan menggunakan alat pengukur kualitas udara, pada Minggu (30/8) pukul 13.00 WITA konsentrasi PM2.5 tercatat 113,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³) dengan status tidak sehat. 
“Update kondisi kualitas udara dengan alat PM2.5 wilayah Tanjung Selor pada pukul 13.00 Wita menunjukkan nilai konsentrasi 113,4 µg/m³ dengan status tidak sehat,” ungkap Farid.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari keberadaan titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah kalimantan. Di Kaltara, hotspot masih terpantau, dengan dominasi titik api berada di wilayah Tanjung Palas Timur. 
“Berdasarkan pantauan hotspot, dominan titik api berada di wilayah Kaltim dan Tanjung Palas Timur,” jelasnya.

Hingga pukul 14.54 Wita, tercatat 56 titik hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang di wilayah Kaltara. Pada waktu yang sama, jumlah hotspot di Kalimantan Timur mencapai lebih dari 400 titik dan sebagian berada di sekitar wilayah yang berbatasan dengan Kaltara. 
“Di Kaltara terpantau ada 56 titik hotspot dengan confidence sedang. Di Kaltim ada 400 lebih titik hotspot dan sebagian terjadi dekat wilayah Kaltara,” tuturnya.

Farid menyebut, potensi kabut asap masih dapat meningkat seiring dengan rendahnya curah hujan. Berdasarkan prediksi BMKG, kondisi curah hujan rendah masih berpotensi terjadi di Kaltara selama September, terutama di wilayah Tanjung Palas Timur dan bagian selatan Malinau. 
“Potensi kabut asap meningkat seiring dengan penurunan curah hujan. Selama September Kaltara masih akan mengalami curah hujan rendah, terutama di Tanjung Palas Timur dan Malinau bagian selatan,” paparnya.

Kondisi curah hujan rendah tersebut diprediksi tidak hanya terjadi di Kaltara, tetapi juga melanda sebagian besar wilayah Pulau Kalimantan. Namun, terdapat peluang perbaikan kondisi pada bulan berikutnya. 
“Curah hujan di sebagian besar Provinsi Kaltara diprediksi akan meningkat menjadi kategori menengah pada Oktober,” pungkasnya.

Editor : Azward Halim
kabut asap BMKG Tanjung Harapan speedboat