Bulungan Perkuat Ekosistem Peternakan, Dorong Kemandirian Pakan Berbasis Potensi Lokal

Taslee • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 17:19 WIB
PERKUAT ; Bupati Bulungan Syarwani ketika berdiskusi dengan pihak perusahaan terkait penguatan peternakan lokal.
(Taslee/Radar Tarakan)
PERKUAT ; Bupati Bulungan Syarwani ketika berdiskusi dengan pihak perusahaan terkait penguatan peternakan lokal. (Taslee/Radar Tarakan)

 

TANJUNG SELOR - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan terus mendorong penguatan ekosistem peternakan sekaligus mewujudkan kemandirian pakan ternak di daerah.

Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi lintas pihak, termasuk bersama PT Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN) dan Universitas Padjadjaran (Unpad), yang diharapkan dapat menjadi role model pengembangan peternakan terintegrasi di Kabupaten Bulungan.

Bupati Bulungan menegaskan, pengembangan sektor peternakan membutuhkan kebersamaan dan kerja sama lintas sektor.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, serta masyarakat menjadi kunci untuk membangun sistem peternakan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah masih tingginya ketergantungan Bulungan terhadap pasokan daging dan pakan dari luar daerah.

Untuk kebutuhan konsumsi daging unggas saja, kebutuhan harian masyarakat Bulungan mencapai tidak kurang dari 6 ton.

Namun, sebagian besar kebutuhan tersebut masih didatangkan dari wilayah luar, seperti Berau dan Tarakan.

Di sisi lain, biaya pakan menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi peternak lokal.

Pakan yang selama ini didatangkan dari Surabaya membuat biaya produksi cukup tinggi sehingga pengembangan usaha peternakan di tingkat lokal belum dapat berjalan secara maksimal.

Karena itu, Pemkab Bulungan menyambut baik inisiasi kolaborasi dan pendampingan akademis untuk mengembangkan sumber pakan berbasis bahan baku lokal.

Potensi tersebut antara lain berasal dari tanaman jagung serta pengembangan integrasi ubi kayu atau singkong.

Limbah tanaman ubi kayu, mulai dari daun, batang, hingga ubi berukuran kecil atau undergrade, dinilai memiliki potensi besar untuk diolah menjadi bahan pakan ternak.

Pemanfaatannya dapat diarahkan untuk mendukung kebutuhan pakan berbagai jenis ternak, termasuk sapi, kambing, hingga babi.

“Yang kita bangun bukan hanya peternakannya, tetapi ekosistemnya. Mulai dari ketersediaan bahan baku pakan, proses produksi, peternakan hingga hasil akhirnya. Dengan demikian, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah secara bertahap dapat dikurangi,” demikian arah kebijakan yang didorong Pemkab Bulungan.

Selain membangun rantai pasok pakan yang lebih efisien, program tersebut juga diharapkan menjadi ruang belajar bersama untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi aparatur pemerintah daerah, khususnya ASN pada perangkat daerah teknis.

Pemkab Bulungan akan menugaskan penanggung jawab atau Person in Charge (PIC) khusus dari Dinas Pertanian dan Dinas Ketahanan Pangan.

PIC tersebut akan berperan dalam mengawal penyusunan roadmap, koordinasi lintas pihak, hingga memastikan pelaksanaan program di lapangan berjalan sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Lebih jauh, pengembangan kawasan peternakan ini dirancang dengan konsep ekonomi sirkular yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Artinya, potensi pertanian dapat mendukung penyediaan pakan, sementara sektor peternakan menghasilkan produk yang memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Konsep tersebut juga tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan daging dan pakan lokal.

Koridor peternakan ke depan berpotensi dikembangkan sebagai kawasan wisata edukasi yang memperkenalkan proses produksi pertanian dan peternakan kepada masyarakat maupun generasi muda.

Dengan konsep yang terintegrasi, pengembangan peternakan diharapkan mampu memberikan efek berganda terhadap perekonomian daerah, mulai dari peningkatan pendapatan peternak, terbukanya lapangan usaha, berkembangnya sektor jasa dan perdagangan, hingga semakin kuatnya ketahanan pangan Bulungan.

Pemkab Bulungan berharap kolaborasi bersama PKN dan Unpad tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun model peternakan yang tidak hanya produktif, tetapi juga mandiri, efisien, berkelanjutan, serta mampu memanfaatkan secara optimal potensi sumber daya lokal. ()

Editor : Sophian Hadi
peternak bulungan