TANJUNG SELOR – Dua dari tiga lembar kain yang dibuat Ardi Bagus Firmansyah gagal. Hanya satu lembar yang berhasil menjadi batik dan kemudian terjual. Uang hasil penjualan itu tidak dibawa pulang. Ardi kembali memutarnya untuk membeli bahan berikutnya.
Begitulah awal perjalanan Batik Yogus. Tidak ada modal besar. Tidak ada toko megah. Tidak pula ada tim produksi yang langsung terampil. Ardi memulai semuanya dari rumah, dengan peralatan sederhana yang tersedia. Dari dapur rumah tangga itulah ia mencoba membangun usaha yang kelak membawa nama Batik Yogus mewakili Kalimantan Utara (Kaltara) hingga panggung nasional.
“Saya merintis benar-benar dari nol. Dari tiga lembar, gagal dua, yang jadi satu terjual buat muter lagi,” kata Ardi.
Bagi pria kelahiran Malang, 1999, itu bukan sekadar cerita tentang membuat kain bermotif batik. Itu adalah cerita tentang bertahan ketika usaha belum menghasilkan, belajar ketika belum menguasai keterampilan, serta berani mengambil kesempatan ketika pintu mulai terbuka.
Ardi sebenarnya tidak sejak awal bercita-cita menjadi pembatik. Pada 2020, ketika pandemi Covid-19 membatasi aktivitas masyarakat, ia mendapat informasi dari pendamping usaha bahwa ada pelatihan membatik yang digelar secara virtual. Kesempatan itu datang melalui program pendampingan Bank Indonesia Kaltara.
Ia pun mencoba mengikuti pelatihan tersebut. Dari balik layar komputer, Ardi belajar tahapan membatik mulai dari membuat motif, mencanting, pewarnaan hingga proses akhir. Pembelajaran yang awalnya hanya dicoba-coba justru membuatnya tertarik untuk menekuni batik.
Dari sana Batik Yogus mulai dirintis. Namun, keterampilan membuat batik ternyata bukan satu-satunya persoalan. Produk yang sudah dibuat harus menemukan pembeli.
Pada tahun pertama hingga tahun kedua, Ardi mengaku pemasaran menjadi tantangan terbesar. Batik Yogus belum dikenal. Ia bahkan harus menitipkan produknya kepada teman-teman pengrajin yang lebih dulu memiliki pasar, termasuk memasarkannya ke Tarakan. Produk yang dibuat belum banyak, sementara modal harus terus berputar.
Ada masa ketika sekitar 15 kain batik telah selesai diproduksi, tetapi belum juga terjual. Tidak adanya kegiatan atau pameran membuat produk menumpuk. Pemasukan pun tersendat. Di titik itu, Ardi hampir menyerah.
Ia sempat berpikir meninggalkan usaha batik dan mencari pekerjaan di Tanjung Selor. Namun, sang ibu meminta Ardi bertahan. “Jangan dulu. Ini kan merintis, memang begini. Itu pesan ibu saya kala itu” ujarnya.
Kalimat sederhana tersebut menjadi salah satu alasan Ardi kembali bertahan. Kesempatan kemudian datang melalui sebuah pameran di Tanjung Selor. Ardi tidak hanya membawa kain untuk dijual. Ia juga melakukan demonstrasi membatik secara langsung. Masyarakat dapat melihat bagaimana kain dibuat dari awal secara manual.
Dari sana, Batik Yogus perlahan mulai dikenal. Momentum tersebut terus berlanjut. Ardi semakin sering mengikuti pameran di tingkat kabupaten maupun provinsi. Dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya, nama Batik Yogus mulai mendapatkan tempat.
Perkembangan mulai terasa pada akhir 2022 hingga 2023. Bank Indonesia Provinsi Kaltara sebelumnya sempat kehilangan kontak dengan Ardi selama lebih dari setahun kemudian kembali mengetahui bahwa Batik Yogus masih aktif. Bahkan, ketika melakukan kunjungan, pihak BI Kaltara mendapati Ardi memang memproduksi batik setiap hari.
Sejak itu, kesempatan mengikuti berbagai kegiatan kembali terbuka. Batik Yogus mulai dilibatkan dalam berbagai event, termasuk Karya Kreatif Benuanta (KKB). Tidak berhenti di tingkat daerah, produk Ardi juga beberapa kali mengikuti Karya Kreatif Indonesia (KKI) yang diselenggarakan Bank Indonesia di Jakarta.
Tiga kali mengikuti KKI, tiga kali pula Batik Yogus lolos kurasi dan terpilih mewakili Kaltara. Ardi, lolos kurasi bukan sekadar penghargaan. Itu menjadi validasi bahwa produk yang dulu dibuat dari dapur rumah ternyata mampu bersaing dengan produk UMKM dari berbagai daerah.
Satu hal yang membuat Batik Yogus berbeda adalah cara Ardi memperlakukan produknya. Ketika konsumen datang, mereka tidak hanya ditawari kain batik. Mereka juga bisa melihat langsung proses pembuatannya.
Dari mencanting hingga finishing, seluruh proses dilakukan di tempat tersebut. Ardi ingin konsumen memahami perbedaan antara batik handmade dengan kain bermotif batik yang dibuat menggunakan mesin printing.
“Kalau orang datang mau beli batik, sambil lihat produksinya. Kita sambil edukasi juga. Ini produksi, kalau batik handmade seperti ini,” ujarnya.
Bagi Ardi, proses yang panjang bukan alasan untuk mengejar produksi secepat mungkin. Ia justru memilih menjaga kualitas. Ia bahkan pernah mengikuti pelatihan selama sekitar satu minggu di Jawa untuk memperdalam teknik pembuatan batik. Pengetahuan tersebut kemudian diterapkan dalam proses produksinya. Prinsipnya sederhana, jangan sampai konsumen membeli sekali lalu kecewa dan tidak kembali. Hasilnya mulai dirasakan.
Menurut Ardi, konsumen kerap menyebut warna Batik Yogus berbeda. Ada yang menyukai warna matang, ada pula yang menyukai warna soft. Perbedaan tersebut menjadi salah satu karakter yang terus dipertahankan.
Batik Yogus juga tidak ingin sekadar membuat kain bermotif. Ardi menyadari bahwa dirinya bukan berasal dari Kaltara. Karena itu, ketika mulai mengembangkan motif lokal, ia memilih belajar dan berkonsultasi dengan tokoh adat.
Dengan pendampingan Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUPKMPP) Kabupaten Bulungan, Ardi berusaha menggali filosofi motif dan unsur budaya Kaltara.
Ia mendatangi rumah adat dan berkonsultasi dengan tokoh adat untuk memahami motif serta nilai budaya yang dapat diterjemahkan ke dalam batik. Dari proses itu, motif-motif yang terinspirasi dari budaya lokal mulai dikembangkan.
Bagi Ardi, motif menjadi identitas. Ia tidak sekadar meniru motif yang sudah ada. Penempatan, pola dan susunan motif terus dikembangkan sehingga memiliki karakter tersendiri. Begitu pula dengan warna. Jika pada awalnya motif dibuat besar, Ardi kemudian menyesuaikannya dengan selera pasar. Motif dibuat lebih kecil dan warna dibuat lebih soft. Penyesuaian itu dilakukan karena konsumen Kaltara memiliki karakter selera yang beragam, terlebih daerah ini dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang.
“Orang sini seleranya beda dengan orang luar. Jadi kita mengikuti juga. Motifnya kita bikin agak kecil-kecil, tidak terlalu menonjol, warnanya juga kita soft-kan,” katanya.
Bagi Ardi, inovasi tidak boleh berhenti. Salah satu cara mempertahankan usaha adalah berani menerima tantangan. Ketika ada permintaan membuat motif tertentu, warna tertentu, bahkan pewarna alam dengan waktu pengerjaan terbatas, Ardi memilih menerima tantangan tersebut.
Ia tidak ingin langsung mengatakan tidak bisa. Setelah menghitung kemampuan dan waktu pengerjaan, ia berusaha menyelesaikannya, meski harus bekerja hingga malam. Bagi Ardi, setiap pesanan bukan hanya soal transaksi. Ada nama Batik Yogus yang sedang dibangun di belakangnya.
“Tidak pernah saya bilang tidak bisa. Saya terima dulu, saya hitung. Walaupun harus sampai malam, tidak apa-apa. Itu untuk membangun branding usaha kita,” ujarnya.
Dari proses itulah kemampuan produksi sekaligus karakter Batik Yogus terus berkembang. Perubahan juga terjadi dalam cara Batik Yogus menjangkau konsumen. Ardi memanfaatkan Instagram dan mulai mengembangkan TikTok. Media sosial menjadi ruang untuk memperkenalkan produk sekaligus membuka komunikasi langsung dengan calon pembeli. Pesanan dari luar Kaltara pun mulai datang.
Sebagian besar bukan konsumen yang sama sekali tidak mengenal Kaltara. Mereka adalah orang-orang yang pernah berdinas atau tinggal di Kaltara, kemudian pindah ke daerah lain tetapi tetap ingin menggunakan produk Batik Yogus.
Yang lebih penting bagi Ardi justru pelanggan lama yang kembali membeli. Repeat order menjadi salah satu indikator bahwa produk yang dibuat tidak berhenti pada transaksi pertama.
Selain penjualan, digitalisasi sistem pembayaran juga ikut membantu. Batik Yogus telah menggunakan QRIS sejak 2021. Menurut Ardi, pembayaran digital membuat transaksi lebih praktis, baik bagi konsumen maupun pelaku usaha. Konsumen tidak harus membawa uang tunai dalam jumlah besar ketika berbelanja.
Pertumbuhan Batik Yogus tidak lagi hanya dirasakan oleh Ardi dan keluarganya. Kini ada sekitar lima pekerja di luar keluarga yang ikut terlibat dalam usaha tersebut. Menariknya, Ardi memilih memberdayakan orang-orang di sekitarnya. Ada anak muda yang sebelumnya belum memiliki keterampilan membatik. Mereka diajari dari nol.
Tidak ada syarat pendidikan khusus. Bagi Ardi, kemauan untuk belajar jauh lebih penting. Ia ingin usaha yang dirintisnya tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga membuka kesempatan bagi orang lain. Sebagian pekerjanya bahkan berasal dari luar lingkungan terdekat dan tinggal di lokasi usaha. Ardi menyediakan tempat tinggal bagi mereka selama bekerja.
Dapur kecil yang dahulu menjadi tempat memulai usaha kini perlahan berkembang. Batik Yogus mencatat omzet rata-rata sekitar Rp 40 juta hingga Rp 60 juta per bulan. Angka tersebut terasa jauh dari kondisi ketika Ardi hanya memiliki tiga lembar kain, dengan dua di antaranya gagal.
Kini ia mulai merencanakan perluasan ruang produksi di sebelah tempat usaha agar kapasitas produksi dapat bertambah dan lebih banyak tenaga kerja bisa dilibatkan. Perjalanan panjang itu akhirnya menghadirkan sejumlah pengakuan. Tahun lalu, Batik Yogus mendapat penghargaan sebagai salah satu UMKM terbaik se-Kaltara dari Bank Indonesia. Produk tersebut juga terus dipercaya dalam berbagai kegiatan.
Dalam salah satu kegiatan, misalnya, Batik Yogus mendapat waktu sekitar 10 hari untuk mengerjakan 70 seragam. Tantangan seperti itu menjadi ujian sekaligus kesempatan untuk membuktikan kapasitas produksi. Kepercayaan tersebut dibangun bukan dalam semalam.
Ia lahir dari proses panjang, termasuk konsistensi Ardi menjaga kualitas dan kesediaannya menerima tantangan. Kini Batik Yogus juga mulai mengembangkan produk pakaian jadi melalui kolaborasi dengan desainer di Tarakan dan penjahit di Tarakan maupun Tanjung Selor.
Namun, Ardi belum ingin terlalu cepat membuka banyak lini usaha. Fokusnya masih satu. Yaitu memperkuat fondasi Batik Yogus. Jika ada satu pelajaran yang paling kuat dari perjalanan Batik Yogus, mungkin bukan tentang batik. Melainkan tentang keberanian memulai. Ardi tidak memulai dengan modal besar. Ia tidak menunggu memiliki tempat produksi luas, mesin lengkap atau tim besar.
Ia memulai dari apa yang tersedia di rumah. Perjalanan itu pun tidak langsung menghasilkan. Ada kain yang gagal, produk yang tidak terjual, pemasaran yang tersendat dan masa ketika keinginan untuk berhenti terasa lebih besar daripada harapan. Namun, ia memilih bertahan. Karena itu, ketika ditanya apa yang harus dilakukan pelaku UMKM agar bisa naik kelas, Ardi tidak langsung berbicara tentang modal. Ia berbicara tentang kemauan untuk terus belajar.
Menurutnya, pelaku usaha tidak boleh merasa sudah paling bisa hanya karena telah lama menjalankan bisnis. Dunia usaha terus berubah sehingga inovasi dan pembelajaran harus berjalan bersamaan. Selain itu, konsistensi menjadi kunci. Bagi anak muda yang ingin memulai usaha, ia menyarankan agar tidak menunggu semuanya sempurna. Tidak perlu menunggu modal besar. Tidak perlu menunggu memiliki banyak anggota. Yang terpenting adalah keberanian mencoba dan kemauan untuk memulai.
“Yang penting kemauan dulu. Jangan menunggu harus ada modal besar. Saya juga merintis dari yang ada di rumah,” katanya.
Ardi kini memiliki target yang lebih besar. Batik Yogus tidak hanya ingin dikenal sebagai pembatik yang memproduksi kain bercorak Kaltara. Ia ingin membangun usaha yang mampu bertahan, membuka lapangan pekerjaan dan membawa identitas daerah keluar dari Kalimantan Utara. Perjalanan menuju ke sana masih panjang. Tempat produksi masih terus dikembangkan. Produk pakaian jadi masih dalam tahap belajar. Pasar masih harus diperluas. Inovasi harus terus dilakukan.
Namun, Ardi sudah belajar satu hal dari perjalanan lima tahun terakhir, usaha tidak tumbuh hanya karena satu kesempatan. Ia tumbuh dari kegagalan yang diterima, pesanan yang diselesaikan, pelanggan yang kembali, pameran yang diikuti, keterampilan yang terus dipelajari dan keputusan untuk tidak menyerah ketika penjualan belum datang. Dari tiga lembar kain yang dua di antaranya gagal, Batik Yogus kini mampu menghasilkan puluhan juta rupiah setiap bulan.
Dari dapur rumah, produknya melangkah ke pameran daerah, kemudian menembus kurasi hingga Jakarta. Dan dari satu usaha kecil, kini ada beberapa anak muda yang ikut menggantungkan penghasilan.
Bagi Ardi, mungkin itulah arti sebenarnya dari membangun UMKM, bukan hanya membuat sebuah produk menjadi laku, tetapi membuat usaha itu terus tumbuh dan membawa orang-orang di sekitarnya ikut bergerak. Batik Yogus pun terus berjalan membawa motif dan cerita Benuanta dalam setiap lembar kainnya, dari tangan seorang perintis yang memilih untuk memulai dari apa yang ada, lalu bertahan sampai kesempatan datang. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT