TANJUNG SELOR – Kondisi kemarau di Kaltara perlu diwaspadai menyusul pengaruh El Nino kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang berpotensi membuat kondisi atmosfer lebih kering. Meski demikian, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi secara lokal akibat dinamika atmosfer regional.
Kepala Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi mengatakan, perkembangan iklim hingga akhir Juli 2026 menunjukkan atmosfer semakin mendukung kondisi kering di Indonesia. Kondisi tersebut ditandai meluasnya wilayah yang telah memasuki musim kemarau.
“Fenomena El Nino kuat dan IOD yang cenderung positif masih menjadi faktor dominan yang berkontribusi terhadap berkurangnya suplai hujan,” kata Sulam kepada Radar Kaltara, Selasa (11/8).
Dia menjelaskan, secara nasional sebanyak 73,8 persen wilayah Indonesia atau 516 zona musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut juga tercermin dari curah hujan pada Dasarian III Juli yang didominasi kategori rendah.
“Sekitar 76,3 persen wilayah mengalami sifat hujan bawah normal,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi kering diperkirakan masih berlanjut pada awal Agustus. Situasi tersebut meningkatkan potensi kekeringan meteorologis sekaligus risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
“Kondisi kering diperkirakan masih berlanjut pada awal Agustus dan meningkatkan potensi kekeringan meteorologis serta risiko kebakaran hutan dan lahan,” jelasnya.
Meski musim kemarau semakin meluas, peluang hujan belum sepenuhnya hilang. Pada 7–9 Agustus 2026, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih tercatat di sejumlah wilayah, termasuk Kaltara dengan curah hujan mencapai 22 milimeter per hari. “Dinamika atmosfer regional masih memberikan peluang terjadinya pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah,” ungkapnya.
Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah fenomena atmosfer, di antaranya aktivitas Gelombang Kelvin yang melintasi sebagian Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) juga terpantau di sekitar Sumatera bagian utara dan Papua bagian utara. “Keberadaan gangguan atmosfer tersebut dapat meningkatkan aktivitas konvektif dan mendukung pembentukan awan hujan,” katanya.
Untuk sepekan ke depan, Sulam menyebut kondisi kering masih menjadi gambaran umum. Prakiraan Dasarian II Agustus menunjukkan curah hujan kategori rendah, yakni kurang dari 50 milimeter per dasarian, berpotensi mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.
“Curah hujan kategori rendah diperkirakan mendominasi 95,62 persen wilayah Indonesia, sedangkan 4,38 persen lainnya berada pada kategori menengah,” paparnya.
Khusus periode 11–14 Agustus, cuaca umumnya diprakirakan cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, hujan dengan intensitas sedang masih berpotensi terjadi secara lokal, sementara angin kencang juga perlu diwaspadai di sejumlah wilayah. “Meskipun kondisi kering masih mendominasi, peluang terjadinya hujan secara lokal masih ada,” ujarnya.
Sementara pada 15–17 Agustus, kondisi serupa diprakirakan masih berlangsung. Cuaca umumnya cerah berawan hingga hujan ringan, dengan potensi peningkatan hujan sedang di beberapa wilayah.
“Masyarakat tetap perlu memperhatikan perkembangan cuaca karena hujan dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal,” katanya.
Di sisi lain, masyarakat yang beraktivitas di wilayah perairan juga diminta meningkatkan kewaspadaan. Angin permukaan dengan kecepatan lebih dari 25 knot berpotensi meningkatkan tinggi gelombang di sejumlah perairan. “Kondisi angin yang relatif kuat tersebut berpotensi meningkatkan tinggi gelombang sehingga perlu diwaspadai aktivitas pelayaran dan kegiatan masyarakat di laut,” tegasnya.
Menghadapi kondisi kemarau, BMKG mengimbau masyarakat menjaga kondisi tubuh saat beraktivitas di luar ruangan dengan menggunakan pelindung atau tabir surya serta mencukupi kebutuhan cairan. “Masyarakat perlu mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering,” ujarnya.
Sulam juga meminta masyarakat dan pemerintah daerah menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan karhutla. Masyarakat diminta tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, khususnya di kawasan yang mudah terbakar.
“Segera laporkan jika menemukan indikasi titik api atau hotspot,” pungkasnya.(jai)