TANJUNG SELOR – Keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan masa depan anak.
Sebagai lingkungan pendidikan pertama, keluarga menjadi tempat anak mengenal nilai-nilai kehidupan, agama, tanggung jawab, kasih sayang hingga membangun hubungan sosial dengan orang lain.
Pentingnya peran tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam Seminar Remaja Putri bertema “Rumahku Surgaku: Mewujudkan Keluarga Harmonis Penuh Berkah” yang digelar Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Keluarga Sakinah (LPPKS) Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Bulungan di Gedung PLHUT Kantor Kementerian Haji dan Umroh, Jalan Kolonel Soetadji, Tanjung Selor, akhir pekan tadi.
Kegiatan tersebut dibuka Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Setkab Bulungan, H. Jamal, SH, MAP.
Dalam kesempatan itu, ia mengapresiasi pelaksanaan seminar yang dinilai penting untuk memberikan bekal kepada generasi muda, khususnya remaja putri, mengenai kehidupan berkeluarga serta pentingnya membangun keluarga yang harmonis.
Menurutnya, pembentukan keluarga yang kuat tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan pemahaman, kesiapan, komitmen dan tanggung jawab dari setiap anggota keluarga. Karena itu, edukasi mengenai keluarga perlu diberikan sejak dini, termasuk kepada generasi muda yang nantinya akan menjadi calon orang tua.
“Generasi muda perlu memiliki pemahaman yang baik tentang bagaimana membangun keluarga yang harmonis. Keluarga yang kuat akan menjadi pondasi penting dalam membangun masyarakat yang kuat,” ujar Jamal.
Ia menegaskan, rumah bukan sekadar tempat berteduh secara fisik. Lebih dari itu, rumah merupakan ruang pertama bagi anak untuk tumbuh dan berkembang, baik secara emosional, spiritual maupun sosial.
Di dalam keluarga, kata dia, anak pertama kali mendapatkan pendidikan tentang kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, saling menghormati, kepedulian dan kasih sayang.
Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi bekal bagi anak ketika berinteraksi di lingkungan sekolah, masyarakat hingga ketika mereka memasuki dunia kehidupan yang lebih luas.
“Keluarga merupakan madrasah pertama bagi anak-anak. Di sanalah mereka belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, disiplin, saling menghormati dan kasih sayang,” katanya.
Karena itu, menurut Jamal, kualitas sebuah keluarga akan sangat berpengaruh terhadap kualitas generasi yang dilahirkan dan dibesarkan di dalamnya.
Keluarga yang mampu memberikan lingkungan yang aman, nyaman dan penuh kasih sayang akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang memiliki karakter kuat.
Seminar yang digelar LPPKS BKPRMI Bulungan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga sebagai salah satu pondasi pembangunan masyarakat.
Keluarga yang harmonis diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi beriman, berilmu dan berakhlakul karimah.
Namun demikian, tantangan yang dihadapi keluarga saat ini semakin kompleks. Perkembangan teknologi informasi dan derasnya arus globalisasi membawa berbagai perubahan terhadap pola komunikasi, pergaulan dan kehidupan sosial masyarakat.
Kemudahan akses terhadap informasi, media sosial dan berbagai konten digital di satu sisi memberikan manfaat besar bagi generasi muda.
Namun di sisi lain, apabila tidak disertai pendampingan dan pengawasan yang baik, perkembangan tersebut juga dapat membawa pengaruh negatif terhadap pola pikir, perilaku dan hubungan antaranggota keluarga.
Selain persoalan teknologi dan pergaulan, keluarga juga menghadapi tantangan berupa persoalan ekonomi serta semakin terbatasnya waktu berkualitas bersama. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi intensitas komunikasi antara orang tua dan anak.
Menurut Jamal, komunikasi menjadi salah satu kunci dalam menjaga keharmonisan keluarga.
Orang tua perlu membangun ruang dialog yang terbuka sehingga anak merasa nyaman menyampaikan persoalan, pengalaman maupun berbagai hal yang dihadapinya.
“Di tengah perkembangan teknologi informasi dan derasnya arus globalisasi, keluarga menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Karena itu, komunikasi antara orang tua dan anak harus terus dibangun,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah maupun lembaga pendidikan formal.
Peran keluarga tetap menjadi yang paling utama karena proses pendidikan berlangsung setiap hari melalui keteladanan dan kebiasaan.
Orang tua, lanjutnya, harus mampu menjadi contoh bagi anak-anak. Nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab dan akhlak mulia akan lebih mudah dipahami anak ketika mereka melihat dan merasakan langsung penerapannya di lingkungan keluarga.
Seminar tersebut diharapkan dapat memberikan perspektif dan bekal kepada para remaja putri agar memahami bahwa membangun keluarga bukan hanya persoalan kesiapan secara fisik maupun ekonomi, tetapi juga membutuhkan kesiapan mental, spiritual dan emosional.
“Seminar ini menjadi wadah untuk memperkuat pemahaman mengenai pentingnya membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah yang dilandasi iman, komunikasi yang baik, saling menghargai serta tanggung jawab dalam mendidik anak-anak,” pesan Jamal. (*)
Editor : Sophian Hadi