TANJUNG SELOR – Kanwil Kemenag Kaltara memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di seluruh madrasah dan sekolah keagamaan. Itu untuk memperkuat pendidikan karakter, nilai keagamaan serta edukasi mengenai berbagai perilaku yang dinilai bertentangan dengan ajaran agama, termasuk perilaku LGBT sebagai bagian dari pembinaan moral peserta didik.
Kepala Kanwil Kemenag Kaltara, H. Muhammad Saleh, mengatakan penguatan KBC menjadi salah satu strategi membangun generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keimanan, akhlak mulia, integritas serta ketahanan moral menghadapi perkembangan zaman.
"Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta tidak hanya berorientasi pada peningkatan capaian akademik, tetapi juga menjadi ikhtiar membangun generasi yang beriman, berakhlak mulia, berintegritas serta memiliki ketahanan moral di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial," kata Saleh kepada Radar Kaltara, Sabtu (25/7).
Menurut Saleh, madrasah dan sekolah keagamaan harus menjadi ruang pendidikan yang aman, nyaman, ramah anak dan penuh kasih sayang. Melalui KBC, peserta didik ditanamkan nilai cinta kepada tuhan, sesama manusia, lingkungan, bangsa dan diri sendiri sebagai fondasi pembentukan karakter.
"Madrasah harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang dalam membentuk karakter peserta didik. Nilai-nilai cinta menjadi fondasi penting untuk membangun generasi yang berakhlak mulia," katanya.
Ia menjelaskan, penguatan implementasi KBC dilakukan melalui pendekatan edukatif, persuasif, preventif, dan humanis. Pendidikan agama dipadukan dengan pembinaan akhlak, literasi digital, serta pendampingan yang melibatkan guru, kepala madrasah, tenaga kependidikan, penyuluh agama, orang tua dan masyarakat.
"Peserta didik perlu dibekali kemampuan memahami ajaran agama secara utuh, memiliki karakter yang kuat, serta mampu menyaring berbagai informasi yang berkembang di media digital sehingga tidak mudah terpengaruh oleh perilaku yang bertentangan dengan nilai agama maupun norma yang hidup di tengah masyarakat," jelasnya.
Selain penguatan pembelajaran, Kanwil Kemenag Kaltara juga mengoptimalkan layanan bimbingan dan konseling di madrasah maupun sekolah keagamaan sebagai ruang konsultasi yang ramah bagi peserta didik dalam menghadapi berbagai persoalan perkembangan remaja.
"Kami ingin seluruh peserta didik tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang ramah anak, bebas dari perundungan, saling menghormati, serta mendapatkan pembinaan yang menguatkan karakter dan nilai-nilai keagamaan. Pencegahan harus dilakukan melalui edukasi yang baik, bukan dengan stigma, tetapi melalui pendampingan dan penguatan karakter," tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, Saleh menginstruksikan seluruh pimpinan unit kerja Kemenag di kabupaten dan kota, termasuk seluruh satuan pendidikan keagamaan, untuk mengintensifkan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga moralitas, memperkuat karakter serta memberikan edukasi mengenai berbagai perilaku yang dinilai bertentangan dengan ajaran agama, sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Ia meminta seluruh jajaran membangun kolaborasi yang lebih erat dengan pemda, lembaga pendidikan, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi keagamaan serta orang tua agar pembinaan karakter berjalan secara berkelanjutan.
"Pembentukan karakter bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah atau madrasah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, sinergi seluruh pemangku kepentingan sangat diperlukan agar peserta didik memperoleh lingkungan yang sehat, aman dan kondusif untuk tumbuh menjadi generasi yang beriman, berkarakter, serta mampu menjaga nilai-nilai agama, Pancasila, dan kehidupan bermasyarakat yang harmonis," pungkasnya. (jai)
Editor : Azward Halim