KONI Bulungan Genjot Pembinaan Atlet Lewat Program Bulungan Unggul, Bidik Prestasi Nasional hingga Internasional

Fijai RT • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 13:19 WIB
PANAHAN: Altet mengikuti kejuaraan panahan Bulungan series. FOTO: RADAR TARAKAN
PANAHAN: Altet mengikuti kejuaraan panahan Bulungan series. FOTO: RADAR TARAKAN

TANJUNG SELOR – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bulungan terus memperkuat sistem pembinaan olahraga dengan membangun organisasi cabang olahraga (cabor) yang sehat sekaligus melahirkan atlet berprestasi melalui program Bulungan Unggul. Ini menjadi strategi utama KONI untuk mencetak atlet yang mampu bersaing di tingkat provinsi, nasional hingga internasional.

 

Ketua KONI Bulungan, Heru Rahmadi menegaskan, keberhasilan mencetak atlet tidak dapat dilepaskan dari kualitas organisasi cabor. Karena itu, sejak awal kepemimpinannya ia memprioritaskan penguatan kelembagaan sebelum mengejar target prestasi.

"Visi saya sejak mencalonkan diri sebagai Ketua KONI adalah sukses kelembagaan dan sukses prestasi. Prestasi tidak mungkin lahir apabila organisasi cabang olahraga tidak dibangun dengan baik. Pondasi utama pembinaan ada di organisasi yang sehat," kata Heru.

 

Menurutnya, hingga kini terdapat 45 cabang olahraga yang menjadi anggota KONI Bulungan, termasuk organisasi fungsional seperti Seksi Wartawan Olahraga (SIWO). Seluruh cabor mendapat kesempatan yang sama untuk berkembang tanpa adanya perlakuan khusus.

"Kami membina semua cabang olahraga secara merata. Tidak ada istilah cabang olahraga tertentu menjadi prioritas atau anak emas. Yang kami lihat adalah potensi atlet dan keseriusan pembinaannya," ungkapnya.

 

Heru menjelaskan, penguatan organisasi menjadi dasar agar setiap cabor mampu menjalankan pembinaan atlet secara berkesinambungan. Melalui organisasi yang tertata, pelatih, pengurus, hingga sistem kompetisi dapat berjalan lebih optimal.

"Kalau kelembagaan berjalan baik, maka pembinaan prestasi juga akan berjalan baik. Sebaliknya, jika organisasi tidak sehat, sulit melahirkan atlet yang mampu berprestasi," tegasnya.

 

Untuk mempercepat lahirnya atlet berprestasi, KONI Bulungan sejak 2024 meluncurkan program Bulungan Unggul. Melalui program tersebut, setiap cabang olahraga didorong menyiapkan atlet terbaik yang kemudian dipantau dan dibina secara khusus oleh Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) KONI.

"Program Bulungan Unggul kami desain untuk mencari atlet-atlet yang memiliki potensi lebih. Setelah melalui evaluasi, mereka kami beri pembinaan lanjutan agar mampu bersaing di level yang lebih tinggi," jelasnya.

Ia mengatakan, pembinaan yang diberikan tidak hanya berupa latihan rutin di daerah, tetapi juga kesempatan mengikuti pemusatan latihan di luar Kalimantan Utara. Atlet-atlet potensial difasilitasi berlatih di sejumlah pusat pembinaan olahraga seperti Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, bahkan hingga Malaysia.

"Kami ingin atlet Bulungan mendapatkan pengalaman dan kualitas latihan yang lebih baik. Karena itu, mereka kami kirim berlatih ke daerah-daerah yang memiliki sistem pembinaan olahraga lebih maju," ujarnya.

 

Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) terakhir, atlet binaan KONI Bulungan berhasil menyumbangkan satu medali emas dari cabor panahan serta dua medali perunggu dari cabor ski air.

"Panahan menjadi salah satu contoh keberhasilan program ini. Atlet tersebut kami lihat memiliki potensi besar, kemudian kami tingkatkan pembinaannya hingga akhirnya mampu meraih medali emas di PON," ungkapnya.

 

Saat ini, sekitar 14 atlet terbaik dari berbagai cabor tengah mengikuti pembinaan lanjutan melalui program Bulungan Unggul. Mereka dipersiapkan sebagai atlet andalan Bulungan pada berbagai kejuaraan tingkat provinsi maupun nasional.

"Target kami bukan hanya melahirkan atlet berprestasi di tingkat daerah, tetapi juga atlet yang mampu mengharumkan nama Bulungan di tingkat nasional bahkan internasional," katanya.

 

Selain memperkuat pembinaan atlet, KONI Bulungan juga menerapkan pendekatan pentahelix dengan melibatkan pemerintah daerah, akademisi, komunitas, dunia usaha, dan media massa dalam pengembangan olahraga. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci karena pembinaan olahraga tidak bisa hanya mengandalkan KONI maupun cabang olahraga semata.

"Kami mengadopsi konsep pembangunan pentahelix. Pemerintah, kampus, media, komunitas, hingga masyarakat harus berjalan bersama agar pembinaan olahraga menghasilkan prestasi yang berkelanjutan," ujarnya.

 

Salah satu bentuk kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kerja sama dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dalam penyusunan metode latihan berbasis ilmu pengetahuan olahraga. Pendekatan akademis dinilai penting agar pembinaan atlet lebih terukur dan sesuai perkembangan olahraga modern.

"Pembinaan saat ini harus berbasis ilmu pengetahuan. Karena itu kami menggandeng perguruan tinggi agar atlet memperoleh metode latihan yang tepat sehingga prestasinya dapat meningkat secara maksimal," jelasnya.

 

Heru optimistis, dengan sistem pembinaan yang terstruktur, organisasi cabang olahraga yang semakin kuat, serta dukungan berbagai pihak, Bulungan akan terus melahirkan atlet-atlet berprestasi di berbagai ajang olahraga.

"Tujuan kami bukan hanya mengejar medali, tetapi membangun sistem pembinaan olahraga yang berkelanjutan. Jika organisasi kuat, pembinaan berjalan konsisten, dan semua pihak bersinergi, saya yakin Bulungan akan terus melahirkan atlet-atlet terbaik yang mampu mengharumkan nama daerah di tingkat nasional maupun internasional," pungkasnya. (jai)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Azward Halim
olahraga KONI Bulungan bulungan