Lima Koridor Pembangunan Jadi Arah Pengembangan Produk Unggulan Desa di Bulungan

Fijai RT • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 02:53 WIB
TANAMAN KAKAO: Kawasan pertanian kakao di wilayah Bulungan. FOTO: RADAR TARAKAN
TANAMAN KAKAO: Kawasan pertanian kakao di wilayah Bulungan. FOTO: RADAR TARAKAN

TANJUNG SELOR – Pemkab Bulungan terus mengakselerasi implementasi program One Village One Product (OVOP) sebagai strategi memperkuat ekonomi desa sekaligus meningkatkan pendapatan asli desa (PADes). Setiap desa didorong mengembangkan produk unggulan berbasis potensi lokal yang memiliki nilai tambah dan daya saing di pasar.

Bupati Bulungan, Syarwani mengatakan, pengembangan produk unggulan desa merupakan bagian dari 15 program prioritas daerah yang tertuang dalam visi pembangunan  Bulungan. Program tersebut diarahkan agar seluruh desa mampu memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Di dalam visi Kabupaten Bulungan yang kami turunkan menjadi 15 program prioritas terdapat program One Village One Product. Potensi itu ada di desa-desa, sehingga harus terus kita optimalkan agar menjadi sumber kesejahteraan sekaligus pendapatan asli desa," kata Syarwani kepada Radar Kaltara, Senin (20/7).

Menurutnya, kehadiran 74 kades dalam kegiatan retreat menjadi momentum menyamakan persepsi sekaligus memperkuat komitmen pemerintah daerah dan pemerintah desa dalam menggali potensi ekonomi di masing-masing wilayah.
"Kita ingin seluruh kepala desa mampu melihat potensi yang dimiliki daerahnya. Jika dikelola dengan baik, potensi tersebut akan memberikan dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat desa," ungkapnya.

Dijelaskan, pengembangan OVOP diselaraskan dengan konsep lima koridor pembangunan yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Bulungan. Setiap koridor memiliki sektor unggulan sesuai karakteristik wilayah. Pada Koridor Barat yang meliputi Kecamatan Peso, misalnya, pemerintah memprioritaskan penguatan sektor pangan dan perkebunan. Salah satu program yang tengah dikembangkan ialah Kawasan Cepat Tumbuh di Desa Long Buang yang melibatkan 10 desa secara kolaboratif bersama Pemda Bulungan dan mitra pembangunan.
"Di Koridor Barat kita fokus pada sektor pangan dan perkebunan. Kawasan Cepat Tumbuh yang sudah kita canangkan di Desa Long Buang menjadi salah satu contoh bagaimana potensi desa dikembangkan secara terpadu sesuai karakter wilayah," jelasnya.

Sementara itu, di Koridor Timur yang meliputi Kecamatan Tanjung Palas Timur, Bunyu, dan Tanjung Palas Tengah, pemerintah mendorong pengembangan sektor perikanan sebagai produk unggulan desa.
"Koridor Timur memiliki potensi besar di sektor perikanan. Ini yang nantinya menjadi sumber pendapatan masyarakat sekaligus menjadi identitas produk unggulan desa di wilayah tersebut," ungkapnya.

Selain sektor pangan dan perikanan, Pemda Bulungan juga telah mengembangkan industri hilir kakao. Syarwani mengungkapkan produk olahan cokelat asal Bulungan kini telah berhasil lolos kurasi dan dipasarkan melalui Sarinah.
"Produk cokelat kita sudah diluncurkan dan berhasil lolos kurasi di Sarinah. Saat ini ada sekitar 70 produk yang telah dikurasi, salah satunya produk cokelat dari Bulungan," ujarnya.

Ia menambahkan, kakao yang sebelumnya hanya dipasarkan dalam bentuk biji kini telah diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari bubuk cokelat hingga cokelat batangan.
"Dulu hanya menjual biji kakao kering. Sekarang sudah menjadi produk olahan dalam bentuk bubuk maupun cokelat batangan yang siap dinikmati masyarakat. Bahan bakunya berasal dari desa-desa di Kabupaten Bulungan," katanya.

Syarwani berharap program One Village One Product mampu melahirkan lebih banyak produk unggulan berbasis potensi lokal sehingga desa tidak hanya menjadi pusat produksi bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi.
"Kita ingin setiap desa memiliki produk unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat ekonomi desa, dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bulungan secara berkelanjutan," pungkasnya. (jai)

Editor : Azward Halim
pertanian bulungan kakao