TANJUNG SELOR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulungan mengingatkan masyarakat untuk melengkapi imunisasi dasar dan lanjutan bagi bayi serta balita. Pasalnya, cakupan imunisasi di Bulungan hingga saat ini masih belum mencapai target Universal Coverage Immunization (UCI) atau masih berada di bawah 80 persen.
Kepala Dinkes Bulungan, H. Imam Sujono mengatakan, rendahnya cakupan imunisasi menjadi perhatian serius karena dapat meningkatkan risiko munculnya kembali penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi.
“Cakupan imunisasi kita masih belum mencapai universal coverage. Artinya masih di bawah 80 persen. Karena itu kami mengimbau masyarakat yang memiliki bayi maupun balita agar melengkapi imunisasi dasar lengkap dan imunisasi lanjutan,” kata Imam kepada Radar Kaltara, Minggu (12/7).
Menurutnya, imunisasi memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit berbahaya seperti campak, difteri, pertusis dan tetanus. Bahkan, dalam beberapa waktu terakhir Dinkes kembali menemukan kasus pertusis di Kabupaten Bulungan.
“Sekarang kita sudah menemukan kasus pertusis di wilayah Sekatak dan Mangkupadi. Padahal sekitar 10 tahun lalu penyakit seperti ini sudah tidak ditemukan. Ini menjadi peringatan bagi kita semua,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, kelengkapan imunisasi merupakan langkah paling efektif untuk membentuk kekebalan tubuh anak sehingga mampu menekan risiko penularan berbagai penyakit infeksi yang dapat dicegah melalui imunisasi.
“Imunisasi bukan hanya melindungi anak yang menerima vaksin, tetapi juga membantu melindungi masyarakat secara luas melalui terbentuknya kekebalan kelompok,” jelasnya.
Selain imunisasi bagi bayi dan balita, Dinkes Bulungan juga terus mengoptimalkan pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Program tersebut menyasar anak usia sekolah untuk memastikan perlindungan terhadap sejumlah penyakit tetap terjaga.
“Kami berharap pelaksanaan program BIAS berjalan lancar dan seluruh anak sekolah dapat menerima imunisasi sesuai jadwal,” ucapnya.
Meski demikian, Imam mengakui masih ditemukan penolakan imunisasi di sejumlah sekolah. Namun jumlahnya relatif kecil dan umumnya dipengaruhi oleh pemahaman orang tua terhadap vaksinasi.
“Masih ada penolakan, tetapi jumlahnya sangat sedikit. Harapan kami melalui edukasi dan advokasi yang terus dilakukan, ke depan tidak ada lagi orang tua yang menolak imunisasi anaknya,” tegasnya.
Ia berharap seluruh masyarakat dapat mendukung program imunisasi pemerintah demi melindungi generasi muda dari berbagai penyakit yang sebenarnya dapat dicegah sejak dini.
“Lengkapi imunisasi anak sesuai jadwal. Ini merupakan investasi kesehatan jangka panjang agar anak-anak Bulungan tumbuh sehat, kuat, dan terhindar dari penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi,” pungkasnya. (jai)