Bulungan Masih Berstatus Endemis DBD, Dinkes Vaksinasi Anak

Fijai RT • Dipublikasikan Kamis, 16 Juli 2026 | 01:07 WIB
VAKSINASI: Pelajar di Bulungan diberikan vaksinasi DBD dosis pertama. FOTO: RADAR TARAKAN
VAKSINASI: Pelajar di Bulungan diberikan vaksinasi DBD dosis pertama. FOTO: RADAR TARAKAN

TANJUNG SELOR – Kabupaten Bulungan masih berstatus daerah endemis Demam Berdarah Dengue (DBD). Status tersebut disandang karena dalam tiga tahun berturut-turut kasus DBD terus ditemukan di wilayah tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulungan, Rustam Iwandi mengatakan, suatu daerah dikategorikan endemis apabila kasus DBD terus muncul setiap tahun.
"Status kita masih daerah endemis. Suatu kabupaten dikatakan endemis apabila selama tiga tahun berturut-turut selalu ditemukan kasus DBD. Di Bulungan setiap tahun selalu ada kasusnya," kata Rustam kepada Radar Kaltara, Kamis (9/7).

Meski demikian, Rustam menjelaskan status endemis tersebut berlaku pada skala kabupaten. Sementara di tingkat kecamatan, penyebaran kasus tidak terjadi secara merata.
"Kalau per kecamatan tidak semuanya endemis. Ada kecamatan yang tahun ini ada kasus, tetapi tahun sebelumnya tidak ada," ungkapnya.

Hingga saat ini, Dinkes Bulungan mencatat sebanyak 15 kasus DBD. Kecamatan Sekatak menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, disusul Tanjung Selor dan Tanjung Palas.
"Sampai saat ini ada 15 kasus yang dilaporkan. Sekatak sebanyak tujuh kasus, Tanjung Selor lima kasus dan Tanjung Palas satu kasus. Selama ini wilayah yang sering menjadi perhatian adalah Tanjung Selor, Tanjung Palas, Sekatak, Tanjung Palas Utara dan Bunyu," jelasnya.

Rustam menambahkan, khusus di Kecamatan Tanjung Palas Utara terjadi penurunan jumlah kasus dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari upaya pencegahan yang dilakukan melalui vaksinasi DBD.
"Tanjung Palas Utara sudah menunjukkan penurunan kasus, meskipun masih ditemukan satu kasus. Salah satu upaya yang kami lakukan adalah pemberian vaksin DBD," ungkapnya.

Pada awal tahun ini, Dinkes Bulungan telah memberikan vaksin DBD dosis pertama kepada sekitar 725 siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Dalam waktu dekat, vaksin dosis kedua akan kembali diberikan kepada sasaran yang sama.
"Kami sudah memberikan dosis pertama kepada sekitar 725 siswa SD dan SMP. Insyaallah dalam waktu dekat akan dilanjutkan dengan dosis kedua sebagai bagian dari upaya meningkatkan kekebalan terhadap DBD," katanya.

Menurutnya, anak menjadi kelompok yang diprioritaskan dalam program vaksinasi karena merupakan kelompok paling rentan mengalami komplikasi akibat DBD.
"Sebagian besar kasus kematian akibat DBD terjadi pada anak-anak. Karena itu kami fokus memberikan perlindungan kepada kelompok usia tersebut melalui vaksinasi," ujarnya.

Meski lebih banyak menyerang anak, Rustam mengingatkan bahwa orang dewasa juga tetap berisiko terinfeksi DBD. Oleh sebab itu, masyarakat diminta tetap menerapkan langkah pencegahan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan memberantas sarang nyamuk.
"Vaksinasi menjadi salah satu upaya perlindungan. Namun yang tidak kalah penting adalah pemberantasan sarang nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan agar penularan DBD dapat ditekan," pungkasnya. (jai)

Editor : Azward Halim
bulungan