TANJUNG SELOR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulungan terus memperkuat berbagai upaya untuk menekan angka kematian ibu dan bayi. Pencegahan dilakukan sejak masa remaja, pranikah hingga proses kehamilan dan persalinan melalui pelayanan kesehatan yang terintegrasi.
Kepala Dinkes Bulungan, H. Imam Sujono mengatakan, angka kematian ibu di Bulungan dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren yang semakin baik. Pada 2025, kasus kematian ibu tercatat hanya satu orang. Namun, menurutnya, setiap kasus kematian tetap menjadi perhatian serius.
"Kalau berbicara angka memang sudah jauh menurun, tetapi bagi kami satu kematian ibu pun sangat berharga. Karena itu, upaya pencegahan harus terus diperkuat," kata Imam kepada Radar Kaltara, Rabu (8/7).
Berbeda dengan angka kematian ibu, Imam mengakui angka kematian bayi di Bulungan masih tergolong tinggi dan menjadi pekerjaan rumah yang harus segera ditangani bersama.
"Yang masih menjadi perhatian kami adalah angka kematian bayi. Ini yang harus terus ditekan melalui berbagai intervensi sejak dini," ungkakpnya.
Menurut Imam, pencegahan kematian ibu dan bayi tidak bisa hanya dilakukan ketika seorang perempuan sudah hamil. Persiapan harus dimulai sejak usia remaja melalui peningkatan status kesehatan hingga memasuki masa pernikahan.
"Kalau ingin mencegah kematian ibu dan bayi, persiapannya harus jauh sebelum kehamilan. Mulai dari kesehatan remaja sampai calon pengantin," jelasnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, Dinkes Bulungan telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) melalui Kantor Urusan Agama (KUA). Salah satu syarat bagi calon pengantin adalah menjalani skrining kesehatan sebelum akad nikah.
"Kami memiliki nota kesepahaman dengan Kementerian Agama. Sebelum menikah, calon pengantin wajib menjalani pemeriksaan kesehatan, termasuk skrining hepatitis B dan sifilis. Setelah dinyatakan sudah menjalani pemeriksaan, baru kami memberikan rekomendasi," ungkapnya.
Apabila ditemukan penyakit yang dapat ditangani, lanjut Imam, pengobatan akan diselesaikan terlebih dahulu sebelum pernikahan. Sementara untuk HIV, pendampingan dilakukan melalui terapi jangka panjang sesuai standar pelayanan kesehatan.
Setelah memasuki masa kehamilan, Dinkes Bulungan juga memperkuat pendampingan melalui puskesmas. Salah satunya dengan meningkatkan frekuensi pemeriksaan kehamilan dari sebelumnya minimal empat kali menjadi delapan kali selama masa kehamilan.
"Sekarang ibu hamil wajib memeriksakan kehamilannya delapan kali agar kondisi ibu dan janin dapat dipantau lebih optimal," katanya.
Selain pemeriksaan rutin, seluruh puskesmas juga menyelenggarakan kelas ibu hamil yang mewajibkan peserta datang bersama pendamping, baik suami maupun anggota keluarga.
"Pendamping sangat penting agar keluarga memahami kondisi ibu hamil, mengetahui rencana persalinan, pembiayaan, hingga lokasi persalinan. Suami harus ikut bertanggung jawab, tidak boleh seluruh beban diserahkan kepada ibu hamil sendiri," tegasnya.
Di sisi lain, sistem rujukan pelayanan kesehatan juga terus diperbaiki. Menurut Imam, komunikasi antara tenaga kesehatan di puskesmas dengan dokter spesialis di rumah sakit kini jauh lebih baik sehingga pasien berisiko tinggi dapat dipersiapkan lebih awal.
"Sekarang sebelum dirujuk, dokter di puskesmas sudah bisa berkomunikasi dengan dokter spesialis sehingga penanganan pasien menjadi lebih cepat dan terencana," ujarnya.
Dinkes Bulungan juga meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan bersama dokter spesialis dari RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, Tanjung Selor. Saat ini, hampir seluruh puskesmas telah dilengkapi alat ultrasonografi (USG) untuk mendeteksi risiko kehamilan sejak dini.
"Dokter-dokter puskesmas sudah dilatih menggunakan USG. Memang alatnya tidak secanggih di rumah sakit, tetapi sudah sangat membantu mendeteksi lebih awal apabila ada masalah pada kehamilan sehingga penanganannya bisa segera dilakukan," pungkasnya. (jai)