TANJUNG SELOR – Dinkes Bulungan terus memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK). Langkah ini dilakukan untuk memastikan masyarakat di daerah dengan akses terbatas tetap memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai.
Kepala Bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan Dinkes Bulungan, dr. Velix Toding Sima mengatakan, saat ini terdapat lima wilayah yang masuk kategori DTPK, yakni Desa Long Bia, Long Bang, Sekatak, Tanah Kuning dan Bunyu.
“Wilayah-wilayah tersebut menjadi prioritas pelayanan karena memiliki karakteristik daerah terpencil, perbatasan, maupun kepulauan yang aksesnya cukup sulit,” kata Velix kepada Radar Kaltara, Selasa (7/7).
Menurutnya, Pemda Bulungan telah menempatkan tenaga kesehatan (nakes) di desa tersebut, meski jumlahnya disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.
“Di desa-desa sudah ada tenaga kesehatan. Ada yang memiliki perawat dan bidan sekaligus, ada juga yang baru memiliki satu tenaga kesehatan, baik perawat maupun bidan,” katanya.
Untuk menjangkau daerah yang belum memiliki fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) permanen, Dinkes Bulungan mengoperasikan puskesmas bergerak yang secara rutin mendatangi masyarakat sesuai jadwal pelayanan.
“Daerah yang belum memiliki pustu tetap dilayani melalui puskesmas bergerak. Tim kesehatan datang secara berkala untuk memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat,” jelasnya.
Ia mencontohkan pelayanan di wilayah Punan Batu Benau di wilayah Desa Sajau, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Bulungan yang hingga kini belum memiliki fasyankes. Tim dari Puskesmas Bumi Raya rutin mengunjungi daerah tersebut setiap dua bulan sekali dengan membawa layanan kesehatan secara lengkap.
“Tim datang dan menginap di lokasi. Dokter, perawat, tenaga imunisasi serta program kesehatan lainnya berjalan secara bersamaan sehingga masyarakat tetap mendapatkan pelayanan yang komprehensif,” ungkapnya.
Hal serupa juga dilakukan di wilayah Semeriot, Kecamatan Sekatak, Bulungan yang membutuhkan waktu tempuh sekitar lima jam perjalanan. Meski memiliki tantangan geografis, pelayanan tetap dilaksanakan secara berkala.
“Teman-teman juga menginap di sana dan memberikan pelayanan setiap dua bulan sekali agar masyarakat tetap mendapatkan akses layanan kesehatan,” ujarnya.
Selain pelayanan langsung, Dinkes Bulungan juga memanfaatkan teknologi telemedicine untuk mendukung pelayanan di fasilitas kesehatan terpencil, terutama apabila tersedia jaringan internet.
“Sekarang kalau akses internet tersedia, konsultasi melalui telemedicine jauh lebih mudah. Tenaga kesehatan di lapangan dapat langsung berkomunikasi dengan dokter atau tenaga medis lainnya untuk membantu penanganan pasien,” katanya.
Velix menambahkan, Dinkes terus berupaya memenuhi kebutuhan sarana, prasarana, logistik, serta tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan terdepan agar pelayanan dasar tetap berjalan optimal.
“Memang belum seluruh fasilitas memenuhi standar secara maksimal, tetapi kami terus melakukan pemenuhan secara bertahap agar kebutuhan dasar pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah terpencil, tetap dapat terpenuhi,” pungkasnya. (jai)