Dorong Koridor Barat Jadi Kawasan Cepat Tumbuh, Bulungan Gelar Sekolah Lapangan Agrokompleks

Fijai RT • Dipublikasikan Kamis, 16 Juli 2026 | 00:42 WIB
PERTANIAN: Pelaksanaan Sekolah Lapangan Agrokompleks di Desa Long Buang, Kecamatan Peso, Bulungan. FOTO: RADAR TARAKAN
PERTANIAN: Pelaksanaan Sekolah Lapangan Agrokompleks di Desa Long Buang, Kecamatan Peso, Bulungan. FOTO: RADAR TARAKAN

TANJUNG SELOR – Pemkab Bulungan memulai Program Sekolah Lapangan Agrokompleks di Desa Long Buang, Kecamatan Peso, Bulungan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya memperkuat pembangunan hijau yang berkelanjutan. 

Sekretaris Daerah (Sekda) Bulungan, H. Risdianto mengatakan, Sekolah Lapangan Agrokompleks merupakan salah satu upaya memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan sektor pertanian yang produktif sekaligus tetap menjaga kelestarian lingkungan.
“Program ini merupakan langkah nyata dalam mewujudkan pembangunan hijau yang berkelanjutan. Melalui sekolah lapangan, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga praktik langsung yang dapat diterapkan sesuai kondisi wilayah masing-masing,” kata Risdianto kepada Radar Kaltara, Senin (6/7).

Ia menjelaskan, program tersebut sejalan dengan arah kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)  Bulungan 2025–2030 yang menetapkan wilayah koridor barat, khususnya Kecamatan Peso, sebagai kawasan cepat tumbuh berbasis pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan terpadu.
“Koridor barat menjadi salah satu fokus pengembangan daerah. Karena itu, peningkatan kapasitas petani menjadi bagian penting agar potensi yang dimiliki mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ungkapnya.

Melalui Sekolah Lapangan Agrokompleks, peserta akan diperkenalkan pada penerapan sistem agrosilvopastura, yaitu model pengelolaan lahan yang mengintegrasikan sektor pertanian, kehutanan, dan peternakan secara berkelanjutan. Program tersebut dirancang sebagai ruang belajar bersama bagi petani, mahasiswa, serta penyuluh pertanian lapangan (PPL) dengan mengedepankan praktik langsung di lapangan, pertukaran pengalaman antardesa, hingga penguatan kapasitas teknis dan kelembagaan.
“Pendekatan ini diharapkan membuat peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi mampu menerapkan, mengembangkan, bahkan mereplikasi sistem agrosilvopastura sesuai karakteristik wilayah masing-masing,” jelasnya.

Sekolah Lapangan Agrokompleks direncanakan berlangsung dalam tujuh sesi pembelajaran. Setiap sesi akan dilaksanakan selama lima hari dengan materi yang disusun secara bertahap agar peserta memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai pengelolaan pertanian berkelanjutan. Melalui kolaborasi antar pemda, lembaga konservasi, perguruan tinggi, dan masyarakat, Pemkab Bulungan optimistis program tersebut mampu melahirkan petani yang lebih adaptif, produktif, sekaligus menjadi penggerak pembangunan hijau di wilayah pedalaman.
“Harapannya, program ini mampu memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan menjadi model pembangunan berkelanjutan yang dapat diterapkan di desa-desa lain di Kabupaten Bulungan,” pungkasnya. (jai)

Editor : Azward Halim
bulungan