TANJUNG SELOR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulungan meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan kasus human immunodeficiency virus (HIV) dengan memperkuat upaya deteksi dini, skrining dan edukasi kepada masyarakat. Langkah tersebut dilakukan menyusul adanya peningkatan kasus HIV di wilayah Kaltara.
Berdasarkan data, 2024 tercatat sebanyak 36 kasus baru HIV/AIDS di Bulungan. Jumlah kasus kembali meningkat menjadi 45 kasus pada 2025.
Kepala Dinkes Bulungan, H. Imam Sujono mengatakan, HIV menjadi salah satu persoalan kesehatan yang harus mendapat perhatian serius karena jumlah kasus yang terdata belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.
“Kalau dilihat dari jumlah, HIV ini seperti fenomena gunung es. Yang terlihat mungkin hanya sebagian, tetapi sebenarnya bisa lebih banyak apabila dilakukan skrining secara menyeluruh,” kata Imam kepada Radar Kaltara, Minggu (14/6).
Menurutnya, HIV merupakan penyakit yang bersifat senyap karena tidak selalu menunjukkan gejala yang mudah dikenali. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.
“HIV ini tidak seperti penyakit yang bisa langsung terlihat. Karena itu, deteksi dini menjadi sangat penting agar masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya dan mendapatkan penanganan lebih cepat,”ungkapnya.
Imam menjelaskan, upaya pengendalian HIV tidak hanya bergantung pada sektor kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat. Edukasi yang benar diperlukan agar tidak muncul kesalahpahaman maupun stigma terhadap orang dengan HIV.
“Yang perlu dipahami adalah bagaimana masyarakat mendapatkan informasi yang benar tentang HIV. Jangan sampai ada anggapan yang keliru sehingga membuat orang enggan melakukan pemeriksaan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bulungan, Rustam Iwandi mengatakan, pihaknya rutin melakukan sosialisasi HIV dan AIDS melalui berbagai jalur, mulai dari sekolah, kampus, organisasi masyarakat hingga lingkungan warga.
“Kami setiap tahun melakukan edukasi kepada masyarakat. Mulai dari sekolah, institusi, kampus hingga kelompok masyarakat agar informasi tentang HIV benar-benar dipahami dengan baik,” ungkapnya.
Ia menyebut, masih ditemukan informasi yang tidak tepat terkait HIV di tengah masyarakat. Salah satunya anggapan bahwa HIV dapat menular melalui kontak sosial biasa, padahal penularan memiliki jalur tertentu.
“Masih ada informasi yang keliru, misalnya HIV bisa menular hanya karena berdekatan atau berinteraksi biasa. Ini perlu diluruskan agar tidak menimbulkan stigma terhadap orang dengan HIV,” tegasnya.
Rustam menjelaskan, penularan HIV terjadi melalui mekanisme tertentu seperti kontak darah, penggunaan jarum yang tidak aman, serta penularan dari ibu kepada bayi. Karena itu, masyarakat perlu memahami cara pencegahan yang tepat.
“Edukasi ini penting agar masyarakat tahu bagaimana cara mencegah dan juga bagaimana memberikan dukungan kepada orang dengan HIV,” ujarnya.
Untuk memperluas jangkauan informasi, Dinkes Bulungan juga menggandeng lintas sektor, termasuk sekolah melalui guru UKS, organisasi masyarakat, dan PKK.
“Kami sudah memberikan pembekalan kepada guru-guru UKS di Bulungan. Sekolah menjadi salah satu tempat strategis untuk menyampaikan informasi kesehatan kepada generasi muda,” kata Rustam.
Selain sosialisasi, Dinkes Bulungan juga mendorong terbentuknya kepedulian masyarakat hingga tingkat lingkungan agar penanganan HIV dapat dilakukan tanpa diskriminasi.
“Kami berharap ada kepedulian dari masyarakat, termasuk lingkungan RT dan warga, sehingga jika ditemukan kasus bisa ditangani dengan baik tanpa memberikan stigma,” tambahnya.
Rustam menegaskan, masyarakat yang ingin mengetahui status HIV kini dapat melakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan yang tersedia, seperti puskesmas maupun rumah sakit. Pemeriksaan dilakukan dengan menjaga privasi dan kerahasiaan pasien.
“Masyarakat yang ingin memeriksakan diri tidak perlu khawatir. Layanan tersedia dan kerahasiaan pasien tetap menjadi prioritas,” pungkasnya. (jai/lim)