TANJUNG SELOR – Keterbatasan tenaga dokter umum dan dokter gigi masih menjadi persoalan yang dihadapi sejumlah puskesmas di Bulungan. Kondisi tersebut mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulungan menyiapkan skema khusus untuk menarik minat tenaga kesehatan (nakes) bertugas di wilayah terpencil dan sangat terpencil.
Kepala Dinkes Bulungan, H. Imam Sujono, mengakui kebutuhan nekes telah dipetakan melalui Analisis Jabatan dan Analisis Beban Kerja (Anjab-ABK). Namun, tingginya mobilitas dokter membuat sejumlah fasilitas kesehatan kembali mengalami kekosongan tenaga medis.
“Anjab sudah dibuat, kebutuhan sudah direncanakan dan penempatan juga sudah dilakukan. Tetapi khusus dokter umum dan dokter gigi, kenyataannya banyak yang belum sampai dua tahun sudah bergeser,”kata Imam kepada Radar Kaltara, Jumat (12/6)
Ia menjelaskan, perpindahan tenaga medis tersebut disebabkan berbagai faktor, mulai dari melanjutkan pendidikan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) hingga memilih bekerja di daerah lain yang menawarkan sistem remunerasi lebih menarik.
“Kalau dibilang, Bulungan masih memiliki tantangan untuk menjadi pilihan utama tenaga kesehatan. Ada daerah lain yang menawarkan penghasilan lebih tinggi sehingga lebih diminati. Ini menjadi pekerjaan rumah kami ke depan agar Bulungan memiliki daya tarik yang lebih baik,” ungkapnya.
Menurutnya, kebijakan pusat yang membatasi pengangkatan sumber daya manusia (SDM) baru juga menjadi kendala tersendiri dalam pemenuhan nekes. Karena itu, Pemda Bulungan kini mengoptimalkan peluang melalui skema penugasan khusus dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) maupun pemda.
“Karena ada kebijakan dari Kementerian PAN-RB terkait pembatasan pengangkatan SDM, maka salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah melalui mekanisme penugasan khusus, baik dari Kementerian Kesehatan maupun pemerintah daerah,” jelasnya.
Selain pemenuhan SDM, Dinkes Bulungan juga terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, termasuk memastikan ketersediaan obat dan pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
“Pelayanan kesehatan harus menempatkan kepuasan masyarakat sebagai prioritas. Kami terus berupaya meningkatkan kualitas layanan sesuai standar yang berlaku sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat,” tegas Imam.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan Dinkes Bulungan, dr. Velix Toding Sima mengatakan pihaknya tengah menyusun regulasi untuk mendukung program penugasan khusus nekes di daerah.
“Kami sedang berproses menyiapkan penyediaan tenaga kesehatan melalui penugasan khusus daerah. Saat ini payung hukum dan regulasinya masih dalam proses penyusunan,” ujarnya.
Velix mengungkapkan tantangan terbesar berada di wilayah terpencil dan sangat terpencil yang masih kurang diminati nekes, khususnya dokter umum dan dokter gigi.
“Kita memiliki beberapa wilayah yang cukup sulit dijangkau. Kondisi itu membuat minat tenaga kesehatan untuk bertugas masih rendah, terutama dokter umum dan dokter gigi,” katanya.
Ia menyebut hingga saat ini masih terdapat fasilitas kesehatan yang belum memiliki dokter gigi, di antarnya di wilayah Long Beluah dan Sekatak.
“Untuk dokter gigi masih ada yang kosong di Long Beluah dan Sekatak. Kami sudah berupaya mengusulkan kebutuhan tersebut melalui berbagai jalur, baik ke pemerintah pusat maupun melalui mekanisme daerah, tetapi minatnya masih terbatas,” ungkapnya.
Karena itu, Dinkes Bulungan tengah menyiapkan sejumlah strategi dan insentif yang diharapkan mampu meningkatkan daya tarik daerah bagi tenaga kesehatan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk memastikan pemerataan layanan kesehatan hingga ke pelosok daerah.
“Kami berharap pada 2027 berbagai program yang sedang disiapkan dapat direalisasikan sehingga kebutuhan dokter umum dan dokter gigi di wilayah terpencil dapat terpenuhi,” pungkasnya. (jai/lim)