Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Tak Hanya Soal Viral, PWI Bulungan Ingatkan Akurasi dan Etika

Iwan RT • Selasa, 19 Mei 2026 | 11:42 WIB
DIGITAL: Diskusi tematik Jaringan Masyarakat Sipil Mentari Kaltara di Tanjung Selor. FOTO: PWI BULUNGAN
DIGITAL: Diskusi tematik Jaringan Masyarakat Sipil Mentari Kaltara di Tanjung Selor. FOTO: PWI BULUNGAN

TANJUNG SELOR - Dewasa ini, derasnya arus digitalisasi sudah tidak dapat dibendung. Hal yang dapat dilakukan saat ini adalah mengakurasi informasi sebelum disebar dan yang tak kalah pentingnya, menjaga etika dalam bermedia.

 

Ketua PWI Bulungan, Fathu Rizqil Mufid mengatakan, di era digital ini media massa memiliki peran strategis sebagai pilar keempat demokrasi dalam mengawal kepentingan publik, menjaga kontrol sosial, hingga menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

 

Ini disampaikan Rizqil pada diskusi tematik yang diselenggarakan Jaringan Masyarakat Sipil (JMS) Mentari Kaltara di Tanjung Selor, Senin (18/5). Dalam diskusi itu, Rizqil menitikberatkan soal peran media dalam advokasi isu publik. "Media bukan sekadar perekam peristiwa, tapi pilar demokrasi yang memiliki tanggung jawab sosial untuk menyuarakan kepentingan publik secara akurat dan beretika," kata Rizqil.

 

Hal ini sebagaimana diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, khususnya Pasal 3 dan Pasal 6 yang menegaskan fungsi pers sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial, serta pengawal demokrasi dan supremasi hukum.

 

Khusus untuk wartawan, memegang teguh Kode Etik Jurnalistik (KEJ) menjadi hal yang wajib dilakukan, terutama terkait independensi, akurasi, verifikasi informasi serta pemberitaan yang berimbang.

 

Menurutnya, advokasi isu publik harus dilakukan melalui kerja jurnalistik yang berbasis data dan verifikasi, bukan sekadar mengikuti arus informasi viral di media sosial (medsos).

 

Hal yang tak kalah pentingnya, media juga perlu memberi ruang bagi suara masyarakat kecil yang selama ini minim akses terhadap pengambil kebijakan. "Media tidak boleh sekadar menjadi corong rilis pemerintah. Informasi tetap harus diuji dan dikritisi agar objektivitas tetap terjaga," tegasnya.

 

Selain itu, ia juga menilai medsos saat ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dunia jurnalistik modern. Untuk itu, media arus utama harus mampu mengadopsi kecepatan medsos tanpa mengorbankan akurasi dan etika jurnalistik. "Media harus memilih menjadi yang benar, bukan sekadar menjadi yang pertama," pungkasnya. (iwk/lim)

Editor : Azward Halim
#bulungan