Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Poktan Bulungan Dilatih Budidaya Berkelanjutan, Dorong Produktivitas Kakao

Taslee • Kamis, 14 Mei 2026 | 14:35 WIB
KAKAO : Wakil Bupati Bulungan Kilat, ketika mengunjungi salah satu perkebunan kakao. Pemerintah mendorong produksi kakao terus meningkat.
(Taslee/Radar Tarakan)
KAKAO : Wakil Bupati Bulungan Kilat, ketika mengunjungi salah satu perkebunan kakao. Pemerintah mendorong produksi kakao terus meningkat. (Taslee/Radar Tarakan)

 

TANJUNG SELOR - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan melalui Dinas Pertanian terus berupaya meningkatkan kualitas ldan produktivitas komoditas kakao.

Langkah ini diwujudkan melalui pelatihan budidaya dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) bagi Kelompok Tani Senguyun di Desa Metun Sajau, Kecamatan Tanjung Palas Timur, baru-baru ini.


Kegiatan yang dikemas dalam bentuk sekolah lapang ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas petani dalam mengelola perkebunan secara berkelanjutan, sekaligus menjadikan kakao sebagai penopang ekonomi daerah.

Wakil Bupati Bulungan, Kilat, A.Md, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa kakao merupakan komoditas unggulan dengan nilai ekonomi yang menjanjikan.

"Saya ingin petani di Bulungan, khususnya di Desa Metun Sajau, terus semangat dan serius dalam mengelola kakao. Ini komoditas unggulan yang punya nilai ekonomi tinggi," ujar Kilat di hadapan para petani.

la berpesan agar para petani menyerap seluruh ilmu teknis yang diberikan untuk kemudian diterapkan di lahan masing-masing demi mengoptimalkan hasil panen dan kesejahteraan keluarga.

Dalam pelatihan ini, Pemkab Bulungan menghadirkan tenaga ahli dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka) Jember, Wagiyo.

Dalam paparannya, Wagiyo menyoroti persoalan klasik yang masih sering ditemui, yakni rendahnya kualitas pascapanen.

Berdasarkan temuannya di lapangan, masih banyak biji kakao milik petani yang tidak melalui proses pengeringan sempurna.

"Masih kita dapati biji kakao yang belum kering sempurna. Kalau dibelah, masih terlihat lembap dan berpotensi berjamur. Idealnya kadar air yang aman itu sekitar 5 persen," jelas Wagiyo.

Selain kadar air, ia menekankan pentingnya manajemen penyimpanan.

Suhu ruang penyimpanan yang ideal berada di kisaran 25 derajat celsius untuk menjaga mutu biji tetap stabil hingga sampai ke tangan pembeli. 

Tanaman kakao menjadi salah satu hasil pertanian yang cukup unggil di Bulungan.

Tanaman dengan produk akhir seperti cokelat ini, telah berhasil diolah menjadi sebuah produk dengan kualitas yang tinggi. Salah satunya cokelat khas Bulungan yang ini telah merambah pasar nasional. (dra)

Editor : Sopian Hadi
#wabup kilat #perkebunan #pemkab bulungan #kakao