TANJUNG SELOR - Pemkab Bulungan memastikan pengembangan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) Tanah Kuning-Mangkupadi di Kecamatan Tanjung Palas Timur, Bulungan terus berjalan. Proyek strategis nasional (PSN) itu diproyeksi menyerap hingga 100 ribu tenaga kerja.
Bupati Bulungan, Syarwani mengungkapkan, kawasan industri tersebut telah di-groundbreaking oleh Presiden Joko Widodo pada 21 Desember 2021. “Di kawasan ini ada tiga pengelola utama, yaitu PT Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI), PT Indonesia Strategis Industri (ISI), dan PT Kayan Patria Propertindo (KPP),” kata Syarwani kepada Radar Kaltara, Kamis (9/4).
Dijelaskan, saat ini sejumlah tenant mulai masuk dan melakukan pembangunan, termasuk industri pemurnian logam atau smelter aluminium. “Salah satu yang sudah masuk tahap konstruksi adalah pembangunan smelter aluminium oleh PT KIPI,” jelasnya.
Menurutnya, meski bahan baku aluminium masih berasal dari luar Kaltara, posisi kawasan yang strategis menjadi keunggulan tersendiri. “Kawasan ini didukung potensi energi hijau yang besar, sehingga ke depan akan menjadi kawasan industri yang berkelanjutan,” tegasnya.
Syarwani menambahkan, kebutuhan energi kawasan industri saat ini masih menggunakan energi fosil. Namun, dalam jangka panjang akan beralih ke energi terbarukan. “Ke depan akan disuplai dari PLTA Kayan dan PLTA Mentarang di Malinau dengan kapasitas sekitar 1.400 hingga 1.600 megawatt,” ungkapnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya penyerapan tenaga kerja lokal dalam pengembangan kawasan industri tersebut. “Targetnya kawasan ini mencapai sekitar 30 ribu hektare dan mampu menyerap hingga 100 ribu tenaga kerja, termasuk tenaga lokal,” katanya.
Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan keterlibatan tenaga kerja asing, khususnya pada tahap awal. “Namun, yang kita harapkan adalah adanya transfer pengetahuan, sehingga ke depan tenaga kerja lokal bisa menguasai sektor industri ini,” ujarnya.
Syarwani juga menilai dampak ekonomi dari keberadaan KIHI mulai terasa di masyarakat. “Efek berganda ekonomi sudah mulai berjalan, sektor-sektor usaha di sekitar kawasan mulai tumbuh,” jelasnya.
Ia menegaskan, keberadaan kawasan industri akan menciptakan hubungan saling menguntungkan antar kawasan dan masyarakat sekitar. “Orang di dalam kawasan pasti membutuhkan dukungan dari luar. Ini yang kita bangun sebagai simbiosis mutualisme,” katanya.
Salah satu peluang yang didorong adalah sektor pangan. Pemerintah daerah berharap petani lokal dapat menjadi pemasok kebutuhan di dalam kawasan industri. “Kami ingin kebutuhan pangan di kawasan bisa dipenuhi oleh petani lokal, sehingga ekonomi masyarakat ikut bergerak,” pungkasnya. (jai/lim)
Editor : Azward Halim