TANJUNG SELOR – Suasana khidmat menyelimuti sejumlah area pemakaman di Tanjung Selor, Minggu (5/4).
Ratusan warga Tionghoa tampak memadati lokasi pemakaman di Jalan Meranti dan KM 4 Tanjung Selor untuk melakukan ziarah, bersih-bersih dan berdoa untuk para leluhur yang telah mendahului atau yang lebih dikenal dengan sebutan Cheng Beng.
Sejak pagi, warga datang membawa aneka sesajian, mulai dari buah-buahan, kue, hingga minuman.
Mereka membersihkan makam, menata persembahan, lalu memanjatkan doa untuk para leluhur yang telah lebih dahulu berpulang.
Ketua Pelestarian Tradisi Warga Tionghoa Tanjung Selor, Satya Bahari, menyebut momen ini sebagai puncak dari rangkaian tradisi ziarah yang telah berlangsung turun-temurun.
“Cheng Beng ini dilaksanakan setiap bulan April, biasanya jatuh pada tanggal 4 atau 5,” ujar pria yang akrab disapa Abay kepada Radar Tarakan, Minggu (5/4).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa esensi Cheng Beng tidak terletak pada tanggal semata.
Ziarah tetap bisa dilakukan beberapa hari sebelum atau sesudah puncak, selama masih dalam bulan yang sama.
“Yang terpenting adalah maknanya. Bahkan, kalau bisa, membersihkan makam dan mendoakan orang tua atau leluhur itu dilakukan kapan saja, tidak harus menunggu Cheng Beng,” katanya.
Bagi masyarakat Tionghoa, Cheng Beng bukan sekadar ritual tahunan. Tradisi yang telah berlangsung ribuan tahun ini menjadi pengingat kuat akan pentingnya bakti kepada orang tua dan leluhur.
“Ini adalah bentuk pengabdian anak kepada orang tua yang telah wafat. Sekaligus mengingatkan generasi muda agar tidak melupakan asal-usulnya, karena tanpa orang tua, kita tidak akan ada di dunia ini,” jelas Abay.
Ia juga memahami bahwa tidak semua orang dapat hadir tepat di hari puncak. Kesibukan maupun jarak sering menjadi kendala.
“Ada yang sembahyang di luar kota, misalnya di Surabaya, lalu baru melanjutkan di Tanjung Selor di waktu lain. Itu tidak masalah, yang penting niat dan penghormatannya tetap ada,” jelasnya, sembari menyampaikan diringa melaksanakan Cheng Beng di malam Jalan Meranti. (ana)
Editor : Sopian Hadi