TANJUNG SELOR - Badan Pusat Statistik (BPS) Bulungan mencatat inflasi tahunan atau year on year (yoy) pada Maret 2026 mencapai 3,06 persen, didorong kenaikan harga sejumlah komoditas utama, mulai dari tarif listrik hingga bahan pangan.
Kepala BPS Bulungan, Yuda Agus Irianto menjelaskan, inflasi tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,60 pada Maret 2025 menjadi 108,83 pada Maret 2026.
“Secara umum, perkembangan harga berbagai komoditas pada Maret 2026 menunjukkan adanya kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya,” kata Yuda kepada Radar Kaltara, Jumat (3/4).
Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan atau month to month (mtm) sebesar 0,41 persen dan inflasi tahun berjalan atau year to date (ytd) sebesar 0,53 persen.
“Ini menunjukkan tren kenaikan harga yang masih terjadi, meskipun relatif terkendali,” tambahnya.
Lebih lanjut, inflasi yoy dipicu kenaikan sejumlah kelompok pengeluaran. Di antarnya kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga yang melonjak signifikan hingga 11,06 persen. “Kenaikan juga terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,93 persen serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,13 persen,” jelasnya.
Tak hanya itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut menyumbang kenaikan cukup tinggi sebesar 10,46 persen. Sementara kelompok lain seperti pakaian, kesehatan, pendidikan serta informasi dan jasa keuangan juga mengalami kenaikan meski relatif kecil. “Kenaikan ini menggambarkan tekanan biaya hidup yang cukup merata di berbagai sektor,” ungkapnya.
Namun demikian, beberapa kelompok pengeluaran justru mengalami penurunan indeks. Di antarnya kelompok perlengkapan rumah tangga yang turun 3,03 persen, transportasi 1,04 persen, serta rekreasi dan budaya sebesar 1,22 persen.
“Penurunan ini turut menahan laju inflasi secara keseluruhan,” katanya.
Dari sisi komoditas, BPS mencatat sejumlah barang yang dominan menyumbang inflasi tahunan, seperti tarif air minum, emas perhiasan, tarif listrik, ikan bandeng, daging ayam ras, hingga gula pasir.
“Komoditas kebutuhan dasar masih menjadi faktor utama pendorong inflasi,” jelasnya.
Sebaliknya, beberapa komoditas justru memberikan andil deflasi, seperti cabai rawit, angkutan udara, bawang putih, tomat, hingga sayuran seperti kangkung dan sawi hijau. “Fluktuasi harga pangan segar masih menjadi faktor yang sangat dinamis,” tambahnya.
Untuk inflasi bulanan, komoditas seperti cabai rawit, daging ayam ras, ikan bandeng, telur ayam ras, dan bensin menjadi penyumbang utama kenaikan harga. Sementara tomat, beras, ikan, hingga produk kebutuhan rumah tangga seperti sabun dan pembersih lantai justru menahan inflasi.
“Pergerakan harga bulanan sangat dipengaruhi pola konsumsi dan pasokan,” ujarnya.
Secara keseluruhan, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang terbesar inflasi y-on-y dengan andil 2,25 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,70 persen.
“Ini menunjukkan bahwa tekanan terbesar berasal dari kebutuhan dasar rumah tangga,” tegasnya.
BPS Bulungan menilai, tren inflasi masih perlu diwaspadai, terutama pada komoditas yang sensitif terhadap pasokan dan distribusi. “Kami akan terus memantau perkembangan harga untuk memberikan gambaran kondisi ekonomi daerah secara akurat,” pungkasnya. (jai/lim)
Editor : Azward Halim