Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Stunting Bulungan 15,9 Persen, Lebih Rendah dari Nasional tapi Tantangan Masih Besar

Fijai RT • Selasa, 31 Maret 2026 | 06:05 WIB

BERDISKUSI: Bupati Bulungan Syarwani berdiskusi dengan anak di Taman Tepian Sungai Kayan, Tanjung Selor.   
BERDISKUSI: Bupati Bulungan Syarwani berdiskusi dengan anak di Taman Tepian Sungai Kayan, Tanjung Selor.  

TANJUNG SELOR - Pemkab Bulungan mencatat capaian positif dalam penanganan stunting. Hingga 2024, prevalensi stunting di Bumi Tenguyun berada di angka 15,9 persen, lebih rendah dibanding rerata nasional sebesar 19,98 persen.

Bupati Bulungan, Syarwani, mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama lintas sektor yang telah dilakukan secara berkelanjutan sejak beberapa tahun terakhir.

“Jika kita bandingkan dengan angka nasional 19,98 persen, posisi Bulungan di angka 15,9 persen. Ini menunjukkan ada dampak dari upaya yang kita lakukan sejak 2022 hingga 2024,” kata Syarwani kepada Radar Kaltara, Senin (30/3).

Meski demikian, ia menegaskan, penanganan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pihak.

“Ini bukan hanya kerja pemerintah daerah, tetapi kerja kolaboratif yang melibatkan stakeholder, mulai dari camat, kepala desa, tokoh masyarakat hingga pelaku usaha,” ungkapnya.

Syarwani menyebut, penanganan stunting ke depan masih memerlukan langkah konkret, terutama dalam menekan faktor penyebab seperti pernikahan usia dini.

“Masih cukup tingginya angka pernikahan usia dini berpotensi menjadi pemicu meningkatnya stunting, sehingga perlu edukasi yang lebih masif,” tegasnya.

Selain itu, pemanfaatan program nasional juga menjadi bagian penting dalam intervensi penurunan stunting, termasuk program pemenuhan gizi bagi ibu hamil dan anak.

“Isu stunting ini berkaitan erat dengan seribu hari pertama kehidupan, termasuk masa kehamilan, sehingga edukasi kepada ibu hamil menjadi sangat penting,” jelasnya.

Pemda Bulungan juga menargetkan penurunan angka stunting dapat terus berlanjut pada tahun berjalan.

“Kita berharap melalui program yang sudah disusun pada 2026, angka stunting bisa ditekan,” ujarnya.

Ia menambahkan, edukasi kepada generasi muda juga menjadi kunci pencegahan jangka panjang, terutama melalui peran sekolah, tenaga kesehatan, dan tokoh agama.

“Kita harus memberikan pemahaman kepada anak-anak agar tidak melakukan pernikahan usia dini yang berpotensi memicu stunting,” katanya.

Syarwani menegaskan, penanganan stunting merupakan kerja jangka panjang yang membutuhkan konsistensi dan keterlibatan semua pihak.

“Target ideal tentu menuju zero stunting, tetapi itu harus dicapai dengan kerja bersama yang berkelanjutan,” pungkasnya. (jai/lim)

 

Editor : Azward Halim