Direktur RSDSS, Widodo Darmo Sentoso, mengungkapkan bahwa jumlah kasus campak pada Januari tercatat sebanyak 11 pasien, kemudian meningkat menjadi 14 pasien pada Februari dan 16 pasien pada Maret. “Kasus campak ini memang cenderung fluktuatif. Namun secara umum, tren pasien yang dirawat sekarang ini sudah mulai menurun,” kata Widodo kepada Radar Kaltara, Minggu (29/3).
Menurutnya, peningkatan kasus campak merupakan fenomena yang lazim terjadi karena sifat penyakit yang musiman dan mudah menular. “Campak ini penularannya sangat cepat, melalui udara atau airborne. Jadi ketika terjadi outbreak, kasusnya bisa langsung meningkat dalam waktu singkat,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa setelah melewati fase puncak, jumlah kasus biasanya akan berangsur menurun secara alami. “Setelah melewati masa peningkatan, biasanya kasus akan turun dengan sendirinya,” katanya.
Widodo juga menyebutkan bahwa campak termasuk penyakit yang bersifat self-limiting (sembuh sendiri), terutama pada pasien dengan daya tahan tubuh yang baik. “Pada pasien dengan imunitas yang bagus, penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya tanpa komplikasi,” ungkapnya.
Meski demikian, ia tetap mengimbau masyarakat untuk waspada dan menjaga kesehatan, terutama pada anak yang rentan terhadap penularan. “Kami mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan dan memastikan imunisasi anak lengkap guna mencegah penularan,” tegasnya.
Dengan pengawasan dan penanganan yang optimal, RSDSS memastikan pelayanan terhadap pasien campak tetap berjalan dengan baik. “Kami terus memantau perkembangan kasus dan memastikan seluruh pasien mendapatkan penanganan yang maksimal,” tambahnya. (jai/lim)
Editor : Azward Halim