Baru-baru ini dilakukan rapat pembahasan rencana budidaya kratom di Kaltara sebagai tindak lanjut dari survei lapangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) bersama Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltara pada Desember 2025 lalu.
Kepala Disperindagkop dan UKM Kaltara, Hasriyani mengatakan, tinjauan lapangan yang dilakukan oleh pihaknya itu merupakan tindak lanjut dari informasi adanya kratom yang tumbuh subur di daerah perbatasan RI-Malaysia itu.
"Potensi kratom di sana itu sangat besar. Beberapa waktu lalu kita sudah lakukan pertemuan dengan menghadirkan beberapa pihak terkait," ujar Hasriyani kepada Radar Tarakan saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu.
Mulai dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) sebagai narasumber terkait regulasinya, Disperindagkop Kalimantan Barat (Kalbar) sebagai daerah yang sudah melakukan ekspor kratom.
Termasuk pihak asosiasi yang sudah melaksanakan ekspor kratom, serta Kepala Desa Atap sebagai daerah yang memiliki potensi kratom tersebut.
"Kita berharap Koperasi Merah Putih yang ada di desa itu menjadikan kratom ini sebagai peluang usaha," katanya.
Meskipun sejak tahun 2019 masyarakat setempat sudah mengenal kratom dengan melakukan usaha remahan atau bubuk kratom. Hasilnya dijual ke Kalbar, baru dari Kalbar yang melakukan ekspor.
"Sekali kirim bubuk kratom itu kurang lebih 20 ton. Tapi kualitas mitragininnya masih rendah, di angka 0,6 persen. Kalau dari Kementerian itu aturannya 1,2 persen," sebutnya.
Masih rendahnya mitraginin dari kratom di Desa Atap tersebut karena keberadaannya masih tumbuh luar. Beda halnya kalau yang dibudidayakan. Saat ini harga jualnya di angka sekitar Rp 16 ribu ke kilogram.
"Saat ini Desa Atap memiliki lahan sekitar 100 hektare yang bisa digunakan untuk budidaya kratom. Jadi peluang ini cukup besar, makanya kita bahas arahnya ini nanti ke mana," pungkasnya. (iwk/lim)
Editor : Azward Halim