Kepala Kanwil Kemenag Kaltara, Muh. Saleh menegaskan, perbedaan dalam penentuan awal Syawal merupakan hal yang lumrah dalam dinamika penetapan kalender Hijriah. “Jika nantinya terjadi perbedaan dalam penetapan Hari Raya Idulfitri, kami mengimbau masyarakat untuk tetap saling menghormati dan menjaga ukhuwah,” kaya Saleh kepada Radar Kaltara, Rabu (18/3).
Pelaksanaan rukyatulhilal akan dipusatkan di kawasan Satuan Radar TNI AU (Satrad) 204 Tarakan, yang dinilai memiliki posisi strategis untuk pengamatan hilal di ufuk barat saat matahari terbenam. Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari Kemenag, BMKG, TNI AU, ahli falak hingga organisasi kemasyarakatan Islam.
“Rukyatulhilal bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi bagian penting dalam memastikan penetapan 1 Syawal dilakukan secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan syar’i,” tegasnya.
Selain metode rukyat, penentuan awal Syawal juga didukung dengan metode hisab atau perhitungan astronomi. Kedua metode tersebut akan menjadi dasar dalam sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
"Hasil rukyatulhilal dari Kalimantan Utara nantinya akan dikirim sebagai bagian dari data nasional untuk menentukan awal Syawal secara resmi oleh pemerintah pusat," pungkasnya. (jai/lim)
Editor : Azward Halim