Kepala BPS Kaltara, Mustaqim mengatakan, sektor yang menyumbang penurunan tertinggi atas penurunan ekspor asli Kaltara Januari 2026 ini sektor hasil tambang yang menjadi USD 54,53 juta dengan persentase penurunan 23,38 persen.
“Kemudian diikuti sektor pertanian yang turun menjadi USD 2,24 juta dengan persentase penurunan sebesar 62,97 persen jika dibanding kondisi Januari 2025,” ujar Mustaqim.
Berbeda dengan sektor hasil industri yang tercatat mengalami kenaikan menjadi USD 31,04 juta dengan persentase kenaikan 17,07 persen dibanding kondisi Januari 2025.
Untuk total ekspor asli Kaltara melalui pelabuhan di luar Kaltra tercatat mencapai USD 12,35 juta, yang mana tiga provinsi utamanya yaitu Jawa Timur sebesar USD 11,75 juta, Sulawesi Selatan sebesar USD 0,44 juta dan DKI Jakarta USD 0,16 juta.
Sementara untuk ekspor melalui pelabuhan di Kaltara pada periode Januari 2026 turun 25,01 persen dibanding Januari 2025, yakni dari USD 110,01 juta menjadi USD 82,50 juta.
Penurunan ini disebabkan oleh menurunnya ekspor nonmigas 25,71 persen dari USD 110,01 juta menjadi USD 81,73 juta. Sedangkan ekspor migas dari yang sebelumnya tidak ada ekspor pada periode tahun lalu, di tahun ini naik menjadi USD 0,77 juta.
“Penurunan ekspor nonmigas disebabkan oleh menurunnya ekspor hasil tambang sebesar 23,38 persen menjadi USD 54,53 juta, ekspor hasil industri turun 25,10 persen menjadi USD 26,31 juta dan ekspor hasil pertanian turun 76,14 persen menjadi USD 0,89 juta,” sebutnya.
Adapun lima negara tujuan utama ekspor melalui pelabuhan di Kaltara pada Januari 2026 meliputi Tiongkok, Filipina, India, Korea Selatan dan Vietnam dengan nilai ekspor masing-masing mencapai USD 33,34 juta, USD 16,51 juta, USD 10,93 juta, USD 6,65 juta dan USD 5,76 juta.
“Peranan kelima negara tersebut dalam ekspor Kalimantan Utara mencapai 89,56 persen terhadap total ekspor Januari 2026,” katanya. (iwk/lim)
Editor : Azward Halim