“Kunjungan ini kami lakukan untuk memperkaya referensi dan memperkuat strategi pengembangan kopi dan kakao di Bulungan agar mampu meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Kilat kepada Radar Kaltara, Rabu (4/3).
Rombongan yang terdiri dari jajaran Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan serta Kepala Desa Long Buang mendapatkan pemaparan mendalam terkait inovasi varietas unggul, teknik budidaya modern, pengendalian hama terpadu, hingga pengolahan pasca panen yang menekankan peningkatan mutu dan nilai tambah produk. “Kami memperoleh banyak masukan tentang bagaimana komoditas kopi dan kakao bisa dikelola dari hulu hingga hilir secara terintegrasi,” jelasnya.
Kilat menekankan, pengembangan perkebunan tidak cukup hanya menambah luas tanam. Kualitas produksi dan akses pasar yang lebih luas menjadi kunci agar petani tidak sekadar menjual bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tambah melalui hilirisasi. “Kita ingin petani tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tambah melalui proses hilirisasi,” tegasnya.
Hasil studi tersebut akan menjadi rujukan dalam menyusun kebijakan pengembangan kopi dan kakao di Bulungan, termasuk di wilayah pedalaman yang memiliki potensi agroklimat mendukung. “Harapannya, pengembangan kopi dan kakao ini benar-benar berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani,” ujarnya.
Melalui studi komparatif ini, Pemkab Bulungan optimistis sektor perkebunan kopi dan kakao dapat tumbuh lebih modern, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi pilar penguatan ekonomi daerah. “Iya, kami optimistis sektor perkebunan bisa menjadi pilar penguatan ekonomi di Bulungan,” pungkas Kilat. (jai/lim)
Editor : Azward Halim