Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Kalimantan Utara Yosua Batara Payangan mengatakan, pemerintah daerah menargetkan setiap tahun 10 hingga 20 desa dapat dialiri listrik. “Harapannya 10-20 desa klir atau teraliri listrik setiap tahun. Artinya, dalam 5 tahun kita harapkan 100 desa bisa terlistriki,” ujar Yosua, Rabu (4/3).
Menurutnya, percepatan elektrifikasi desa akan lebih banyak mengandalkan dukungan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), mengingat kemampuan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kaltara masih terbatas.
Ia menjelaskan, sebagian besar desa yang belum berlistrik berada di wilayah terisolasi, sehingga tidak memungkinkan untuk disambungkan ke jaringan listrik dari kota seperti Tanjung Selor, Malinau, maupun Nunukan. “Jadi pembangkit dan jaringannya ada di lokasi tersebut dan disesuaikan dengan berapa kebutuhan masyarakat berdasarkan jumlah penduduk di masing-masing lokasi,” tuturnya.
Untuk menjangkau desa-desa terpencil tersebut, Pemprov mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), salah satunya melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Skema ini dinilai lebih realistis dibanding membangun jaringan transmisi jarak jauh dengan biaya besar.
Dari sisi sebaran wilayah, desa belum berlistrik paling banyak berada di Kabupaten Nunukan, disusul Kabupaten Malinau. Sementara itu, Kota Tarakan disebut telah mencapai rasio elektrifikasi hampir 100 persen. “Untuk sebarannya, terbanyak di Nunukan, baru di Malinau. Kalau untuk di Tarakan, sudah boleh dikatakan 100 persen berlistrik,” pungkasnya.
Dengan target 10-20 desa per tahun, Pemprov Kaltara berharap dalam lima tahun ke depan sebagian besar desa terisolasi dapat menikmati akses listrik sebagai fondasi peningkatan kualitas hidup dan pertumbuhan ekonomi masyarakat. (iwk/lim)
Editor : Azward Halim