Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Bulungan Yuda Agus Irianto mengungkapkan, indeks harga konsumen (IHK) Februari 2026 berada di angka 108,39, naik dibanding Februari 2025 yang tercatat 103,23. “Pada Februari 2026 terjadi inflasi y-on-y sebesar 5,00 persen, atau terjadi kenaikan IHK dari 103,23 menjadi 108,39,” kata Yuda, Rabu (4/3).
Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan (month to month/mtm) sebesar 0,56 persen dan inflasi tahun kalender (year to date/ytd) sebesar 0,12 persen. “Untuk inflasi mtm sebesar 0,56 persen dan inflasi ytd sebesar 0,12 persen,” ungkapnya.
Secara kelompok pengeluaran, penyumbang terbesar inflasi tahunan berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang melonjak 22,88 persen. “Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mengalami kenaikan tertinggi, yakni 22,88 persen,” tegasnya.
Kenaikan juga terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 11,94 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,36 persen, serta makanan, minuman, dan tembakau 0,90 persen. “Kelompok kesehatan naik 0,63 persen, pakaian dan alas kaki 0,48 persen, pendidikan 0,46 persen serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,05 persen,” paparnya.
Di sisi lain, beberapa kelompok justru mencatat penurunan indeks. Perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga turun 2,92 persen, transportasi turun 2,57 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya turun 1,22 persen.
Dari sisi komoditas, emas perhiasan menjadi penyumbang utama inflasi yoy, disusul daging ayam ras, cabai rawit, ikan bandeng, sewa rumah hingga kopi bubuk. “Emas perhiasan dan daging ayam ras menjadi komoditas dominan penyumbang inflasi tahunan,” ungkapnya.
Sementara komoditas yang menahan laju inflasi yoy antara lain bawang merah, bayam, sawi hijau, beras, bensin, dan bawang putih.
Untuk inflasi bulanan, tarif listrik dan tarif air minum PAM tercatat sebagai penyumbang utama kenaikan harga Februari 2026. “Tarif listrik dan tarif air minum PAM memberikan andil signifikan terhadap inflasi mtm,” jelasnya.
Adapun komoditas yang menahan inflasi bulanan antara lain daging ayam ras, cabai rawit, bawang putih, sawi hijau, bayam hingga sabun deterjen bubuk.
Dari sisi kontribusi terhadap inflasi tahunan, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga menyumbang andil terbesar sebesar 4,31 persen. “Kelompok perumahan memberikan andil 4,31 persen terhadap inflasi yoy,” tegas Yuda.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,81 persen, makanan, minuman dan tembakau 0,27 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,09 persen.
Sementara itu, kelompok transportasi memberikan andil deflasi sebesar 0,37 persen, perlengkapan rumah tangga 0,15 persen, dan rekreasi, olahraga, serta budaya 0,01 persen.
“Kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan tercatat stabil atau tidak mengalami perubahan indeks,” ujarnya.
Dengan inflasi yang menyentuh 5 persen, BPS menekankan pentingnya pengendalian harga komoditas strategis, terutama yang berkaitan langsung dengan kebutuhan pokok masyarakat. “Pengendalian harga dan pemantauan rutin menjadi kunci menjaga stabilitas daya beli masyarakat,” pungkasnya. (jai/lim)
Editor : Azward Halim