Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi strategi promosi dan pemasaran event daerah yang digelar di Tanjung Selor, Senin (2/3). Kegiatan ini menjadi momentum penyatuan langkah antara pemerintah pusat dan daerah dalam merancang promosi yang lebih terarah, kreatif, serta berdampak langsung terhadap peningkatan kunjungan wisatawan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah pemerintah pusat dan daerah dalam merancang promosi yang lebih terarah, kreatif, dan berdampak langsung pada peningkatan kunjungan wisatawan serta pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujar Rahmawati.
Menurutnya, event daerah bukan sekadar seremoni, melainkan representasi budaya, identitas, dan potensi unggulan yang harus dipasarkan secara profesional dan berkelanjutan. Ia menegaskan, perubahan pola pikir menjadi kunci agar sektor pariwisata mampu berkembang lebih pesat.
“Kita harus ubah cara pandang. Pariwisata ini bisa kita jual, bisa kita promosikan. Bukan hanya oleh pemerintah, tapi masyarakat juga bisa jadi motor promosi,” tegas politisi Partai Gerindra tersebut.
Rahmawati bahkan mendorong adanya semacam “sekolah pikir” pariwisata yang difasilitasi Kementerian Pariwisata, guna membangun kesadaran kolektif bahwa promosi wisata adalah tanggung jawab bersama. Peran masyarakat, menurutnya, sangat penting, terutama dalam memanfaatkan media sosial sebagai alat promosi yang efektif melalui konten-konten kreatif yang mampu menjangkau pasar nasional hingga mancanegara.
Ia mencontohkan sejumlah event di Kaltara yang memiliki daya tarik besar, seperti lomba perahu dayung dan speedboat dalam peringatan hari jadi di Kabupaten Bulungan, serta lomba speedboat di Tarakan yang mampu menarik ratusan peserta dan masyarakat.
“Event seperti ini punya dampak besar terhadap pariwisata. Tinggal bagaimana kita kemas dan promosikan lebih maksimal,” imbuhnya.
Selain event olahraga tradisional, Rahmawati juga menekankan pentingnya penguatan pariwisata berbasis budaya. Ragam tarian daerah seperti tarian Dayak, Tidung, dan Bulungan dinilai sebagai aset budaya yang dapat dikemas menjadi narasi wisata yang kuat dan berkelanjutan.
Sebagai perbandingan, ia mencontohkan keberhasilan Bali dalam menjadikan budaya lokal sebagai magnet wisata dunia, salah satunya melalui pertunjukan Tari Kecak yang rutin dipadati wisatawan mancanegara.
“Bayangkan, setiap ada pertunjukan, animonya luar biasa. Orang luar negeri datang khusus untuk menyaksikan tarian khas mereka. Saya rasa kita juga bisa seperti itu,” tuturnya optimistis.
Melalui sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, Rahmawati berharap strategi promosi pariwisata Kaltara semakin kreatif, terukur, dan berkelanjutan. Dengan demikian, event-event lokal tak hanya ramai di tingkat daerah, tetapi juga mampu menembus panggung nasional hingga internasional, sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM dan kesejahteraan masyarakat. (dra/iwk/lim)
Editor : Azward Halim